BONTANG, Pranala.co – Awal tahun 2026 membawa kabar mengkhawatirkan dari Kota Bontang. Dinas Kesehatan (Diskes) setempat mencatat lonjakan kasus campak yang telah menginfeksi sedikitnya 120 anak sejak Januari hingga Maret. Angka tersebut, meski belum dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), sudah cukup memicu alarm kesiagaan di seluruh jaringan kesehatan daerah.
Kepala Diskes Bontang, Bahtiar Mabe, tidak menyembunyikan keprihatinannya. “Memang ada sedikit kenaikan. Tapi itu akumulasi dari Januari sampai sekarang sekitar 120 kasus,” ujarnya di ruang kerjanya, Senin (16/3/2026).
Campak—penyakit virus yang ditandai dengan demam tinggi, ruam kemerahan, batuk, dan mata merah—termasuk salah satu infeksi dengan tingkat penularan tertinggi. Di lingkungan padat anak, virus ini bisa menggila dalam hitungan hari.
Beruntung, sebagian besar pasien telah pulih dan kembali beraktivitas. Hanya sejumlah kecil yang memerlukan perawatan intensif di fasilitas kesehatan.
Menghadapi ancaman ini, Diskes Bontang memperkuat pertahanan di dua garis depan. Pertama, vaksinasi rutin di seluruh puskesmas yang diperintensifkan. Kedua, sistem surveilans ketat melibatkan tenaga kesehatan dan kader di masyarakat untuk deteksi dini.
Namun langkah paling agresif baru akan diluncurkan pasca-Lebaran. Tim kesehatan akan turun langsung ke satuan pendidikan anak usia dini (PAUD) menyasar kelompok rentan yang seringkali terlewat dari jaring imunisasi rutin.
“Dalam waktu dekat, kemungkinan setelah Lebaran, kami akan melakukan imunisasi ke PAUD-PAUD di Kota Bontang,” jelas Bahtiar.
Strategi ini dipilih karena PAUD menjadi tempat berkumpulnya anak-anak dengan status imunisasi beragam—calon sumber penularan massal bila tidak dikendalikan.
Bahtiar menekankan peran krusial orang tua dalam mematahkan rantai penularan. Gejala awal campak sering disalahartikan sebagai pilek biasa, padahal keterlambatan penanganan bisa berakibat fatal.
“Kami mengimbau masyarakat agar segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila menunjukkan gejala campak seperti demam tinggi, ruam kemerahan di kulit, batuk, atau mata merah. Sehingga dapat segera ditangani sebelum bertambah parah,” pungkasnya. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami















