MENYIAPKAN “rumah masa depan” bagi warga Bontang ternyata bukan perkara mudah. Meski menjadi kebutuhan mutlak, urusan mencari lahan Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Bontang seringkali terbentur tembok penolakan dari masyarakat.
Ironinya: warga ingin lokasi pemakaman yang mudah dijangkau dari rumah, namun mereka ogah jika area makam berada tepat di samping tempat tinggal mereka.
Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (Disperkimtan) Bontang, Usman, mengakui dinamika ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah. Mencari lahan baru untuk TPU di tengah kota kini terasa gampang-gampang susah.
“Cari lahan pemakaman itu gampang-gampang susah karena ada juga warga yang menolak,” kata Usman mengutip keterangannya, Rabu (3/6/2026).
Penolakan warga bukan tanpa alasan. Usman menyebut ada kekhawatiran yang sifatnya materiil hingga faktor psikologis yang sulit dihilangkan.
Banyak warga yang merasa kehadiran kompleks pemakaman akan langsung memukul harga properti mereka. Kawasan yang awalnya punya nilai ekonomi tinggi, dianggap bakal lesu jika bersebelahan dengan nisan.
“Kalau ada kuburan katanya harga tanah turun, takut, dan macam-macam,” ungkapnya blak-blakan.
Padahal, penyediaan lahan pemakaman adalah pelayanan wajib yang harus dipenuhi pemerintah. Pertumbuhan penduduk yang pesat berbanding lurus dengan meningkatnya kebutuhan lahan untuk peristirahatan terakhir.
Meski pencarian lahan baru penuh drama, Usman memastikan masyarakat tidak perlu cemas untuk saat ini. Kapasitas TPU yang ada di Bontang, terutama di kawasan Bontang Lestari, masih mencukupi.
Area di Bontang Lestari memang disiapkan sebagai kantong utama karena luas lahannya yang masih mumpuni untuk jangka panjang. Namun, ia menyadari tantangan jarak menjadi keluhan klasik warga.
“Pemakaman di Bontang Lestari masih cukup luas untuk saat ini. Kami tetap memikirkan langkah antisipasi jangka panjang,” jelasnya.
Pemerintah Kota Bontang kini terus melakukan pemetaan untuk mencari lokasi yang ideal secara geografis namun minim konflik sosial. Usman berharap masyarakat bisa lebih terbuka memahami bahwa TPU adalah fasilitas umum yang sangat krusial.
Bagaimanapun, tradisi pemakaman konvensional masih menjadi pilihan utama mayoritas warga Indonesia. Artinya, kebutuhan lahan yang luas tidak bisa dihindari dan harus disiapkan sejak dini sebelum krisis lahan benar-benar terjadi. [WIL]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















