Didominasi Pelajar SD, 142 Anak di Bontang jadi Yatim karena Covid-19

Ilustrasi pemakaman Covid-19. [ANTARA]

pranala.co – Pemerintah Kota Bontang melalui Dinas Sosial dan Pemberdayaan Manusia (Dissos-PM) mencatat hingga 8 September 2021 sebanyak 142 anak kehilangan orangtua karena Covid-19. Mereka berstatus, yatim, piatu, dan yatim piatu.

Jumlah ini mengalami kenaikan 17 anak.  Sebelumnya, 25 Agustus tercatat keseluruhan 125 anak, sedangkan 10 Agustus tercatat 88 anak. Bisa saja jumlahnya akan terus meningkat.

Kepala Dissos-PM melalui Kasi Pengelolaan Data, Kemiskinan, PMKS, dan PSKS Dissos-PM Bontang Siti Rofiatun berujar data tersebut dihimpun dari tiap kelurahan dan akan segera dilaporkan ke Provinsi. Oleh sebab itu, tiap kelurahan wajib melaporkan dengan tenggang 8 September kemarin.

“Kalau hari ini kami melakukan sinkronisasi data dengan Dinas Kesehatan (Diskes), sedangkan besok baru kita setor ke Pemerintah Provinsi Kaltim (Pemprov),” jelasnya saat dihubungi awak pranala.co melalui sambungan gawai, Kamis (9/9) siang.

Berdasarkan data yang dihimpun, Rofi memaparkan anak yang kehilang orangtua sebab Covid-19 didominasi pelajar jenjang SD. “Paling banyak itu Mbak, dan selain itu usia masih di bawah 18 tahun,” imbuhnya.

Rincinya, dari 142 anak tersebut 31 diantaranya pelajar SMA, 30 pelajar SMP, 48 pelajar SD dan 33 lainnya di bawah usia sekolah. “TK ada, bahkan bayi berumur satu bulan juga ada mbak,” ujarnya.

Dia bilang, terkait bantuan Rp 2 juta dari Pemprov Kaltim, pihaknya masih belum tahu persis detail dan teknisnya. Hanya saja pihaknya diminta untuk melakukan pendataan dan segera melaporkan ke Pemprov Kaltim.

“Kalau itu kami masih menunggu arahan saja mbak,” tutupnya.

Terpisah, Ketua DPRD Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam mendorong pemerintah untuk mendata sedetail mungkin. Selain pendampingan, hak anak harus segera diperhatikan mulai kesejahteraan hingga mereka mendapatkan beasiswa khusus. Politisi Golkar ini berkata pemerintah wajib melakukan pendampingan terhadap anak yatim piatu akibat Covid-19.

”Mereka merupakan korban yang harus mendapat perhatian penuh dari negara. Hukumnya wajib negara untuk hadir memastikan keberlanjutan hidupnya,” ucapnya.

Dia mengaku sempat menemui anak yang ditinggal orangtuanya yang meninggal akibat Covid-19. Dalam beberapa kasus, anak terlihat gamang karena tidak tahu bagaimana kelanjutan hidupnya setelah orangtuanya tidak ada.

Untuk itu, Faiz menegaskan, bantuan yang diberikan pemerintah tidak hanya berupa beasiswa ataupun bantuan pangan. Lebih dari itu, mereka pun harus didampingi secara mental untuk membangun kembali motivasinya.

”Negara harus memastikan dan mengawal kelanjutan hidupnya, kelanjutan sekolahnya, harus ada pendampingan psikis dan motviasi dan tentunya diperhatikan lingkungannya. Jadi tidak sekadar bantuan pangan tapi bantuan keseluruhannya,” tegasnya. (*)

 

 

Penulis: Lutfi Rahmatunisa’

More Stories
1,2 Juta Vaksin Covid-19 dari Cina Tiba, Pemerintah Tunggu Fatwa Halal MUI