Pranala.co, BONTANG – Jam dinding baru menunjukkan pukul 08.59 WITA. Tapi perut Miguel sudah sejak tadi berisik. Ia menengok ke arah pintu kelas. Belum ada tanda-tanda. Tapi teman-temannya sudah gelisah. Menengok ke luar. Menyenggol teman sebangku. Menunggu satu hal: makan gratis.
Dan benar saja. Pukul 09.00 tepat. Waktu yang ditunggu itu datang.
Paket makan bergizi—sebutan resmi dari pemerintah—dibagikan. Isinya? Nasi hangat, lauk berganti tiap hari, sayur, dan kadang buah. Gratis.
“Enak om. Saya senang ada makan-makan begini,” kata Miguel. Siswa kelas 9 SMP 4 Bontang itu tersenyum sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
Hari itu lauknya ayam goreng bumbu kuning. Kemarin telur balado. Besok belum tahu apa. Tapi yang pasti: tak pernah sama. Dan tak pernah basi.
Miguel tak selalu sempat sarapan di rumah. Kadang bangun terlambat. Kadang dapur masih kosong. Tapi kini ia tak risau lagi. Tiba di sekolah, sudah ada yang menunggunya: kotak makan bergizi.
Tak hanya Miguel. Ada 585 siswa lainnya di SMP 4 Bontang yang ikut program ini. Mereka menyambut jam 9 pagi dengan penuh semangat. Bukan karena pelajaran matematika akan dimulai. Tapi karena perut mereka akan diisi.
Bagi Marianus, juga siswa kelas 9, program ini punya dua wajah.
Di satu sisi, ia bahagia bisa makan gratis setiap hari. Tapi di sisi lain, uang jajannya kini dipotong. Dari Rp10 ribu jadi Rp5 ribu.
“Tapi saya senang,” katanya. Ia sadar, uang jajan bisa dikurangi karena ada program ini. Dan orangtuanya bisa sedikit bernafas lega.
Kepala SMPN 4 Bontang, Dorta Situmeang, tahu betul betapa berartinya program ini bagi murid-muridnya.
“Sejak berjalan seminggu ini, belum ada satu pun siswa yang mengeluh. Semua antusias,” ujarnya.
Sekolahnya kebetulan dekat dengan dapur penyedia makanan. Jadi makanan selalu datang dalam kondisi hangat. Belum sempat dingin, sudah disantap.
Ia berharap program MBG (Makan Bergizi Gratis) ini bisa terus berlanjut.
Tak hanya karena anak-anak senang. Tapi karena para orangtua juga terbantu. Mayoritas dari mereka petani dan buruh. Membekali anak tiap hari adalah beban tambahan.
“Sekarang mereka tak perlu khawatir. Anak-anaknya tetap makan bergizi meski tak sempat masak pagi,” ucapnya.
Program MBG ini barangkali sederhana di mata sebagian orang. Tapi tidak bagi Miguel. Tidak bagi Marianus. Tidak bagi ratusan siswa di SMP 4 Bontang yang kini datang ke sekolah dengan lebih semangat.
Karena kenyang bukan soal isi perut semata. Tapi juga soal tenang di hati.

















