Pranala.co, SAMARINDA – Infrastruktur jalan penghubung di Kalimantan Timur (Kaltim) menghadapi ancaman serius. Setidaknya 50 titik longsor dan kerusakan badan jalan teridentifikasi di tiga ruas vital yang menjadi tulang punggung konektivitas dan distribusi logistik regional.
Menyikapi kondisi darurat ini, Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud melakukan pemantauan langsung dari matahari terbit hingga terbenam selama dua hari berturut-turut.
Berdasarkan pemantauan tim gabungan di lapangan, kerusakan infrastruktur terkonsentrasi pada tiga ruas strategis berikut:
| Ruas Jalan | Panjang | Titik Kerusakan | Jenis Kerusakan |
|---|---|---|---|
| Sangatta–Simpang Perdau | 32 km | 17 titik | Longsor dan potensi penurunan badan jalan |
| Simpang Perdau–Muara Lembak | 13,10 km | 11 titik | Longsor dan penurunan badan jalan |
| Muara Lembak–Sangkulirang (Pelabuhan Ronggang) | 52,14 km | 22 titik | Potensi longsor dan kerusakan badan jalan |
Ketiga ruas ini dinilai memiliki peran vital dalam mempercepat pemerataan pembangunan dan memperkuat konektivitas antarwilayah di Kalimantan Timur. Kerusakan yang meluas mengancam kelancaran arus barang, jasa, dan mobilitas masyarakat.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim, Muhammad Faisal, mengungkapkan intensitas pemantauan yang dilakukan Gubernur Rudy Mas’ud bersama jajaran. Kunjungan kerja marathon ini dilakukan beberapa hari lalu dengan ritme yang menantang.
“Dari matahari belum terbit hingga matahari terbenam selama dua hari, rombongan Gubernur melaksanakan kunjungan kerja,” ujar Faisal, Sabtu (28/2/2026).
Rute yang ditempuh sengaja dirancang untuk mengoptimalkan observasi: Hari Pertama: Samarinda → Bontang (jalur pesisir; Hari Kedua: Bontang → Sangatta → Jembatan Nibung, Kutai Timur (jalur utama).
“Rombongan sengaja melalui rute pesisir dari Samarinda ke Bontang untuk melihat langsung kondisi jalan dan mempersiapkan alternatif akses ke sana,” jelas Faisal.
Selama perjalanan, Gubernur didampingi tim teknis dari Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Kaltim untuk melakukan asesmen detail setiap titik kerusakan.
Gubernur Rudy Mas’ud menegaskan bahwa keberadaan infrastruktur jalan tersebut bukan sekadar masalah teknis, melainkan kunci strategis bagi pertumbuhan investasi daerah sekaligus jaminan rantai pasok energi dan pangan.
“Ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi menyangkut konektivitas kawasan industri, distribusi logistik, dan pelayanan masyarakat,” tegas Faisal yang mengutip pernyataan Gubernur Kaltim.
Kerusakan di ruas-ruas tersebut berpotensi mengganggu banyak hal. Mulai dari distribusi hasil tambang menuju pelabuhan ekspor; pasokan energi ke kawasan industri; mobilitas komoditas pangan antarwilayah; akses masyarakat ke layanan publik dan ekonomi.
Pascapemantauan, Faisal mengonfirmasi bahwa sejumlah temuan lapangan akan segera masuk tahap evaluasi dan perencanaan teknis. Pemerintah Provinsi Kaltim berkomitmen untuk terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat guna memastikan ruas-ruas strategis tersebut mendapatkan penanganan prioritas.
“Semua hasil pemantauan akan menjadi dasar langkah konkret ke depan,” ujarnya.
Selain pemantauan jalan, agenda kunjungan kerja Gubernur juga mencakup peresmian Jembatan Nibung dan peninjauan ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy, menunjukkan fokus pemerintah daerah pada pengembangan infrastruktur strategis secara komprehensif. (RED)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami



















