Pranala.co – Nilai mata uang Iran, rial, terperosok ke titik terendah sepanjang sejarah. Kejatuhan ini menjadi cermin krisis ekonomi yang kian dalam dan kompleks di negara tersebut.
Tekanan datang dari berbagai arah. Sanksi internasional, terutama dari Amerika Serikat, masih membelenggu. Inflasi melambung tinggi. Ekspor minyak dibatasi. Stabilitas politik pun goyah.
Akibatnya, nilai tukar rial anjlok tajam terhadap mata uang utama dunia. Dolar Amerika Serikat dan euro kini terasa semakin jauh dari jangkauan.
Mengutip laporan The Sunday Guardian, bahkan di sejumlah negara Eropa, mata uang rial tidak lagi diterima atau dapat ditukarkan. Iran pun semakin terisolasi dari sistem keuangan global.
Data terbaru menunjukkan, satu dolar AS kini setara dengan sekitar 1.137.500 rial. Sementara satu euro menembus 1.327.240 rial. Angka ini menandai titik terendah nilai tukar rial sepanjang sejarah Iran.
Kondisi ekonomi yang memburuk itu memicu gelombang protes besar sejak 28 Desember 2025. Awalnya, keluhan muncul soal harga pangan yang melambung dan nilai uang yang terus merosot. Namun, tuntutan itu cepat berkembang menjadi seruan perubahan pemerintahan.
Aksi protes bermula dari pedagang di Grand Bazaar Teheran dan kalangan mahasiswa. Dalam waktu singkat, gelombang demonstrasi menyebar ke seluruh 31 provinsi, termasuk kota-kota kecil.
Bentrokan dengan aparat keamanan tak terelakkan. Ratusan orang dilaporkan tewas. Ribuan lainnya ditangkap. Ketegangan sosial pun kian memuncak.
Situasi politik yang tidak menentu semakin menggerus kepercayaan publik terhadap rial. Warga dan pelaku usaha berbondong-bondong menyelamatkan aset mereka. Dolar, emas, hingga mata uang kripto menjadi pilihan.
Langkah itu justru memperparah tekanan terhadap mata uang nasional.
Menurut laporan Al Jazeera, pelemahan rial berlangsung sangat cepat. Pada Januari 2025, satu dolar AS masih berada di kisaran 700 ribu rial. Pertengahan tahun naik menjadi sekitar 900 ribu rial. Menjelang akhir Desember 2025, nilainya sempat menembus 1,4 juta rial per dolar.
Dampaknya terasa langsung di dapur rakyat. Harga bahan pangan melonjak rata-rata 72 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Inflasi tahunan Iran kini diperkirakan berada di kisaran 40 persen.
Daya beli masyarakat runtuh. Biaya hidup kian menekan.
Krisis ekonomi ini juga dipicu peristiwa besar lainnya. Pada Juni 2025, Iran terlibat perang selama 12 hari dengan Israel. Konflik itu merusak infrastruktur di sejumlah kota dan menguras keuangan negara.
Belum pulih dari dampak perang, pada September 2025, Perserikatan Bangsa-Bangsa kembali memberlakukan sanksi ekonomi terkait program nuklir Iran. Dewan Keamanan PBB menolak pencabutan sanksi secara permanen.
Sanksi tersebut membatasi perdagangan dan akses Iran ke devisa. Tekanan terhadap rial pun semakin berat.
Di dalam negeri, kebijakan pemerintah ikut menambah beban masyarakat. Desember 2025, Iran menerapkan sistem baru subsidi bahan bakar. Dalam praktiknya, harga bensin naik, meski sebelumnya dikenal sebagai salah satu yang termurah di dunia.
Pemerintah juga berencana meninjau harga bahan bakar setiap tiga bulan. Artinya, peluang kenaikan lanjutan terbuka lebar.
Pada saat bersamaan, bank sentral menghapus nilai tukar khusus bersubsidi untuk impor, kecuali untuk obat-obatan dan gandum. Kebijakan ini diperkirakan mendorong kenaikan harga pangan lebih lanjut.
Keluhan warga pun semakin keras terdengar. Harga produk susu dilaporkan naik hingga enam kali lipat dalam setahun. Sejumlah barang kebutuhan lain bahkan melonjak lebih dari sepuluh kali lipat.
Kondisi inilah yang memantik kemarahan publik. Krisis ekonomi kini bukan sekadar angka statistik, melainkan realitas pahit yang dirasakan langsung masyarakat Iran, dari pasar tradisional hingga ruang-ruang protes di jalanan. (RE)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami



















