IMPIAN masyarakat di pelosok Kutai Timur (Kutim) untuk menikmati malam yang terang benderang tampaknya bukan lagi sekadar angan-angan. Daerah yang terkenal dengan bentang alamnya yang luas ini tengah berlari kencang menuju rasio elektrifikasi 100 persen.
PT PLN (Persero) kini tengah mengebut proyek raksasa interkoneksi desa. Jika target pembangunan jaringan listrik tahun 2026 rampung, wilayah Kutai Timur praktis hampir bebas dari kegelapan. Hanya tersisa tiga desa saja yang masih mengantre untuk dialiri setrum.
Manager Unit Pelaksana Proyek Ketenagalistrikan (UP2K) PLN Kalimantan Timur (Kaltim), Nur Hakim, membeberkan perjuangan membelah belantara demi mengalirkan energi. Sebelumnya, tercatat ada 26 desa di Kutai Timur yang sama sekali belum tersentuh listrik PLN.
Langkah masif langsung diambil. Sepanjang 2025 kemarin, PLN menggenjot pembangunan infrastruktur di 15 lokasi yang mencakup 13 desa baru.
"Alhamdulillah, berkat dukungan Pemkab Kutim pembangunan dapat berjalan dengan lancar," kata Nur Hakim saat dikonfirmasi baru-baru ini.
Tak berhenti di situ, tantangan lebih besar menanti di tahun 2026. PLN mendapatkan mandat khusus dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menggarap 31 lokasi yang tersebar di 21 desa.
Dari puluhan lokasi tersebut, ada 10 desa baru yang akan mencatatkan sejarah: menikmati dinginnya es batu dari kulkas sendiri dan terangnya lampu neon untuk pertama kalinya.
Jika seluruh target tahun ini berjalan mulus, peta wilayah gelap di Kutai Timur (Kutim) akan menyusut drastis. Berdasarkan data PLN, hanya tersisa tiga desa saja yang belum terjangkau, yaitu: Desa Pulau Miang, Desa Sandaran, dan Wilayah Tanjung Mangkalihat.
"Untuk tiga desa itu akan kami usulkan pembangunannya pada tahun 2027. Mudah-mudahan bisa terealisasi sehingga pada tahun 2028 Kutai Timur sudah mencapai rasio elektrifikasi 100 persen," ujar Nur Hakim optimistis.
Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, tidak bisa menyembunyikan rasa syukurnya atas atensi besar yang diberikan PLN. Baginya, listrik bukan sekadar fasilitas, melainkan hak dasar masyarakat, terutama mereka yang bertahan hidup di garis batas terpencil.
Kendati demikian, layaknya seorang kepala daerah yang mendengarkan keluh kesah warganya setiap hari, Ardiansyah ingin pergerakan ini bisa lebih cepat lagi.
"Mudah-mudahan semuanya bisa terang semua. Tadi tinggal tiga desa. Mudah-mudahan bisa menyusul pada 2027. Tapi kalau saya maunya tahun ini," cetus Ardiansyah diselingi harapan besar.
Ardiansyah juga memberikan solusi taktis kepada PLN. Ia menyarankan agar penarikan kabel listrik memanfaatkan jaringan terdekat yang sudah aktif, khususnya untuk wilayah Tanjung Mangkalihat dan Sandaran. [HAF]
















