FENOMENA ekspresi gender di lingkungan sekolah menjadi sorotan Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni. Dia meminta guru tidak terburu-buru memberi stigma atau label terhadap pelajar yang menunjukkan perilaku berbeda dari kebiasaan umum di sekolah.
Pernyataan itu disampaikan Neni di tengah kekhawatiran meningkatnya persoalan sosial yang mulai ditemukan dalam survei di sejumlah sekolah di Bontang. Ia menilai, perubahan perilaku remaja perlu dipahami secara lebih hati-hati karena tidak selalu berkaitan langsung dengan orientasi seksual.
“Anak seperti itu, bukan untuk dihakimi, tetapi untuk dikasihi,” kata Neni.
Menurut dia, lingkungan pergaulan, perkembangan psikologis, hingga pengaruh media sosial menjadi faktor yang ikut membentuk perilaku dan ekspresi diri pelajar. Karena itu, pendekatan pendidikan dinilai lebih penting dibanding penghakiman.
Isu ini menjadi sensitif karena menyangkut dunia pendidikan sekaligus pola pengasuhan anak di tengah perubahan sosial yang semakin terbuka. Di satu sisi, sekolah dituntut menjaga nilai dan karakter siswa. Namun di sisi lain, guru juga dihadapkan pada tantangan untuk tetap menjadi ruang aman bagi tumbuh kembang remaja.
Neni mengatakan sekolah tidak bisa hanya berfungsi sebagai tempat mengejar capaian akademik. Menurutnya, sekolah juga memiliki tanggung jawab membangun ketahanan mental dan karakter anak agar tidak mudah terpengaruh lingkungan negatif.
Dalam pernyataannya, Neni turut menyinggung data yang ia peroleh terkait paparan LGBT di Indonesia. Ia menyebut angka paparan mencapai 5 persen secara nasional dan 9,1 persen di wilayah perkotaan berdasarkan penelitian yang diterimanya. Namun, ia tidak menjelaskan lebih lanjut sumber maupun tahun penelitian tersebut.
“Nah, masalah ini menjadi tanggung jawab kita semua. Bagaimana memastikan anak-anak tetap berada pada jalur perkembangan yang sehat,” ujarnya.
Selain persoalan ekspresi gender, Pemkot Bontang juga menyoroti ancaman penyalahgunaan narkoba dan perilaku menyimpang di kalangan remaja. Pemerintah daerah bersama Dinas Pendidikan disebut tengah menyiapkan langkah lanjutan berupa pendekatan edukatif dan preventif yang melibatkan sekolah serta orang tua.
Neni menilai penguatan pendidikan karakter dan nilai spiritual perlu diperkuat untuk membantu remaja menghadapi tekanan lingkungan dan pengaruh sosial yang semakin kompleks.
“Kalau anak-anak kita dibekali dengan nilai spiritual yang kuat, mereka akan lebih siap menghadapi tekanan lingkungan,” katanya.
Tambahan informasi. Ekspresi gender adalah cara seseorang menampilkan gendernya secara lahiriah kepada dunia luar, meliputi pakaian, gaya rambut, riasan, suara, dan perilaku.
Ekspresi ini mencerminkan bagaimana seseorang ingin dilihat, yang sering kali dikategorikan masyarakat sebagai maskulin, feminin, atau androgini, dan mungkin berbeda dengan identitas gender batin mereka. Ekspresi gender tidak harus selalu konsisten dengan jenis kelamin biologis atau identitas gender seseorang. [FR]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















