Pranala.co, BONTANG – Pemerintah Kota Bontang menegaskan komitmennya memperkuat layanan kesehatan masyarakat. Posyandu harus semakin berdaya. Kader harus semakin sejahtera.
Penegasan itu disampaikan Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, saat menghadiri Penandatanganan Komitmen Kinerja dan Penyerahan Sarana Pelayanan Posyandu di Auditorium Taman 3D, Selasa pagi (20/1/2026).
Di hadapan ratusan kader, Wali Kota Neni menyampaikan keputusan penting. Insentif kader Posyandu resmi dinaikkan menjadi Rp1 juta per bulan. Kebijakan ini tetap diambil meski kondisi fiskal daerah sedang ketat.
“Saya tidak memotong hak siapa pun. Tapi saya menuntut kinerja, amanah, dan tanggung jawab yang lebih baik,” tegas Neni.
Menurutnya, kader Posyandu bukan sekadar pelaksana layanan dasar. Mereka adalah ujung tombak. Bahkan, sumber data utama yang sangat menentukan arah kebijakan kesehatan pemerintah.
“Kualitas data dari kader menentukan keberhasilan program. Dari situlah kebijakan lahir,” ujarnya.
Kepala Dinas Kesehatan Bontang, Bahtiar Mabe, menambahkan bahwa besaran insentif tersebut menjadikan kader Posyandu di Bontang sebagai salah satu yang paling sejahtera. Tidak hanya di Kalimantan Timur, tetapi juga di tingkat nasional.
Dalam kesempatan itu, Wali Kota juga menyoroti isu stunting. Per November, angka stunting di Bontang tercatat 15,6 persen. Angka ini memang menurun. Namun, Neni mengingatkan agar seluruh pihak tidak lengah.
Target berikutnya lebih menantang. Tidak boleh ada kasus baru. “Kita kejar zero new stunting. Pencegahan jauh lebih penting daripada pengobatan,” katanya.
Neni menekankan bahwa lingkungan dan perilaku memiliki pengaruh paling besar terhadap derajat kesehatan. Faktor ini bahkan melampaui peran fasilitas fisik.
Karena itu, edukasi sejak dini menjadi kunci. Terutama bagi ibu hamil dan remaja. Perubahan perilaku sehat harus dimulai dari rumah.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Pemkot Bontang menyerahkan 79 unit laptop kepada Posyandu. Selain itu, disalurkan pula berbagai alat kesehatan. Di antaranya antropometri kit dan tensimeter digital.
Neni memastikan pengadaan sarana dilakukan berdasarkan kebutuhan riil di lapangan. Tidak asal belanja. Tidak ada duplikasi anggaran.
“Kita sesuaikan dengan kebutuhan. Yang sudah ada tidak dibelikan lagi,” tegasnya.
Acara kemudian dirangkai dengan penyerahan Anugerah Kelurahan Sehat 2025. Kelurahan Kanaan keluar sebagai juara pertama. Disusul Kelurahan Belimbing di posisi kedua dan Bontang Kuala sebagai juara ketiga.
Sementara itu, Kelurahan Gunung Elai menerima sertifikat Stop Buang Air Besar Sembarangan atau Open Defecation Free (ODF). (RIL)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















