Pranala.co, BONTANG — Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Bontang menggelar program ambisius. Seluruh pegawai Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) ditargetkan bebas narkoba (zero narkoba) pada tahun ini.
Langkah konkret telah disiapkan melalui pendampingan intensif selama 12 bulan penuh, mengubah paradigma dari penindakan menjadi pembinaan karakter.
Kepala BNN Kota Bontang, Lulyana Ramdani, mengungkapkan program ini merupakan bagian dari rencana kerja Tim Terpadu Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN). Inisiasi bersama Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Bontang ini menetapkan Disdamkartan sebagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) piloting untuk pendampingan total.
"Momentum ini kami manfaatkan untuk menetapkan Disdamkartan sebagai OPD yang kami dampingi secara total sampai benar-benar bersih dari narkoba," kata Lulyana, Minggu (8/2/2026).
Lulyana mengidentifikasi faktor risiko spesifik yang dihadapi petugas pemadam kebakaran. Profesi yang menuntut kesiapsiagaan tinggi, jam kerja tidak menentu, serta tekanan fisik dan mental ekstrem menciptakan kondisi rentan.
Dalam keadaan lelah, kurang tidur, dan beban kerja berat, muncul pemahaman keliru bahwa narkoba dapat menjadi jalan pintas menjaga stamina. Mitos ini berbahaya dan perlu dibongkar secara sistematis.
"Padahal itu salah besar. Narkoba bukan solusi, justru pintu masuk masalah baru," tegas Lulyana dengan nada serius.
BNNK Bontang memilih strategi pencegahan berbasis karakter dan keluarga, bukan mengandalkan penindakan semata. Selama satu tahun, Disdamkartan akan mendapatkan pendampingan multi-aspek melalui berbagai program terintegrasi.
Rangkaian kegiatan mencakup pembentukan satuan tugas (satgas) internal, pemeriksaan kesehatan berkala, pembinaan keagamaan, olahraga rutin, hingga penguatan ketahanan keluarga. Konsep ini menggarisbawahi bahwa pencegahan narkoba adalah tanggung jawab kolektif, bukan individu semata.
Sebagai bentuk pengawasan, BNN akan melaksanakan tes urine mendadak secara rutin. Frekuensinya bisa tiap bulan atau tiap tiga bulan, dilakukan secara acak terhadap sampel kecil.
"Bisa tiap bulan atau tiap tiga bulan, secara acak. Tidak banyak orang, mungkin tiga atau empat, tapi dilakukan terus dan tanpa pemberitahuan. Mudah-mudahan nanti akan muncul kesadaran untuk setop dari narkoba," jelas Lulyana.
Metode ini dipilih untuk menciptakan efek jera sekaligus mendorong pembentukan kebiasaan hidup sehat, bukan sekadar menghindari deteksi.
Fokus utama program ini adalah pembentukan karakter. BNN akan menggelar pembinaan rutin setiap bulan yang menyasar sisi kemanusiaan petugas, melampaui aspek profesionalitas kerja.
"Kami bentuk karakter mereka sebagai petugas damkar, sebagai suami, sebagai istri, dan sebagai manusia. Kalau karakternya kuat, daya tahan terhadap narkoba juga kuat," ujar Lulyana.
Ia menyebut konsep ini sebagai upaya membangun "imun terhadap narkoba". Maksudnya, kemampuan menolak penyalahgunaan narkoba karena kesadaran dan komitmen pribadi, bukan semata karena pengawasan eksternal.
"Kalau sudah imun, mau ada godaan apa pun, mereka bisa tegas berkata tidak," tambahnya. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















