FENOMENA penyalahgunaan obat dan minuman beralkohol di kalangan remaja kembali menjadi perhatian di Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim). Dalam patroli wilayah di Kelurahan Tanjung Laut, Bontang Selatan, Sabtu (2/5/2026) malam, petugas menemukan sejumlah remaja yang diduga masih berusia SMP mengonsumsi campuran sirup obat batuk dan alkohol 70 persen bersama minuman ringan.
Temuan itu mendorong Badan Narkotika Nasional Kota Bontang melakukan koordinasi dan pendalaman di lapangan. Kepala BNN Kota Bontang, Lulyana Ramdani, menilai penanganan kasus seperti ini tidak cukup hanya dengan pembubaran atau teguran saat patroli berlangsung.
“Selama ini mungkin masih sebatas dibubarkan atau diberikan arahan. Padahal yang dibutuhkan anak-anak ini adalah penanganan lanjutan, seperti diagnosis, treatment, dan pendampingan,” ujar Lulyana, Rabu (6/5/2026).
Menurut dia, penyalahgunaan obat pada usia remaja kerap dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari lingkungan pergaulan hingga lemahnya pengawasan dan komunikasi di dalam keluarga. Karena itu, BNN menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam proses pencegahan maupun pemulihan.
“Tidak cukup hanya anaknya yang ditangani. Keluarganya juga harus dilibatkan. Dari situlah solusi jangka panjang bisa terbentuk,” katanya.
BNN juga mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap penyalahgunaan zat yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar, termasuk obat-obatan bebas dan cairan beralkohol. Penggunaan yang tidak sesuai dinilai dapat memicu gangguan kesehatan fisik maupun mental pada remaja.
Ke depan, BNN Kota Bontang akan dilibatkan dalam forum bersama kelurahan, kecamatan, serta organisasi perangkat daerah (OPD) se-Kota Bontang untuk membahas persoalan sosial, termasuk penyalahgunaan narkoba dan zat berbahaya. Forum itu diharapkan dapat melahirkan langkah penanganan yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan bagi perlindungan generasi muda di Kota Bontang.
Dalam patroli tersebut, aparat kelurahan menyisir sejumlah titik yang kerap menjadi lokasi berkumpul remaja, seperti warung dan area publik dengan fasilitas wifi gratis.
Petugas mendapati sejumlah remaja masih berkumpul hingga melewati pukul 22.00 Wita. Selain botol minuman keras, ditemukan pula minuman kemasan yang dicampur obat batuk dan alkohol.
Lurah Tanjung Laut, Andriani Kasim, menyebut kondisi itu memprihatinkan karena dapat menjadi pintu masuk terhadap perilaku berisiko lain di kalangan remaja.
“Ini yang membuat kami sangat prihatin. Selain berisiko bagi kesehatan, kebiasaan seperti ini bisa menjadi pintu masuk ke perilaku negatif lainnya,” ujar Andriani. [FR]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















