PRANALA.CO – Kenaikan harga beras juga terjadi di Bontang, Kalimantan Timur. Bahkan untuk beras medium pada akhir Februari lalu tercatat dibanderol Rp 15 ribu tiap kilogram.
Kepala Bagian Perekonomian dan SDA Setda Bontang, Moch Arif Rochman menerangkan saat ini untuk ketersediaan beras bulog dinyatakan aman.
“Kalau beras bulog selalu ada. Tinggal minta ke gudang di Samarinda,” terangnya.
Meroketnya harga beras ini diimbau tidak berakibat panic buying di kalangan masyarakat. Dalam waktu dekat Pemkot Bontang akan menggelar pangan murah pada 6 Maret mendatang. Lokasinya di TPI Tanjung Limau.
“Nanti juga ada beras bulog disana. Kalau harga tentunya lebih murah,” sebutnya.
Selain beras, komoditas pangan yang akan dijual di pangan murah meliputi telur, minyak goreng, hingga bawang. Selain itu, untuk mengantisipasi gejolak harga di bahan pokok pangan maka menjelang lebaran nantinya dilakukan monitoring di pasar.
“Mendekati lebaran nantinya akan kami monitor. Meskipun pantauan ini sudah dilakukan tiap pekannya,” ujar dia.
Sebelumnya Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan membantah adanya praktik spekulan ada praktik spekulan yang memanfaatkan situasi hingga memicu harga beras terus mahal dan pecah rekor.
Menurutnya, harga beras yang tengah melonjak ini disebabkan pasokan beras yang tidak ada, karena belum masuk panen raya.
Zulhas menjelaskan, ketidaktersediaan pasokan beras ini disebabkan masa panen raya yang pindah, di mana yang seharusnya September mulai masuk masa tanam, namun baru dimulai pada bulan Januari, sehingga terjadi keterlambatan panen.
“Paling cepat panen itu April, Mei, hingga Juni,” ungkapnya.
Ia pun mengatakan tidak semua jenis beras mengalami kenaikan harga, melainkan hanya beras premium produksi lokal karena stok produksinya berkurang. Sementara beras impor masih tersedia dengan harga terjangkau.
“Yang naik dan langka itu beras lokal atau premium, jadi pemerintah membanjiri pasar dengan beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) subsidi komersial Bulog, berasnya ngga kalah bagus,” paparnya.
Ia pun menyarankan masyarakat agar beralih dari beras premium petani lokal menjadi beras Bulog. (*)


















