Warga Bontang Diminta Jujur demi Memutus Mata Rantai Covid-19

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni (tengah) saat jumpa pers perkembangan Covid-19 di PSC, Sabtu (4/4). (HMS/ADI)

KEJUJURAN menjadi hal penting untuk memutus mata rantai pandemi Covid-19 di Kota Bontang. Tujuannya agar penyebaran COVID-19 tidak semakin meluas lagi dan pemerintah dapat mencegahnya. Sehingga tidak terjadi tumpukan pasien COVID-19 seperti hari ini dan mengakibatkan tenaga medis kewalahan, bahkan sampai terjangkit virus corona hingga meninggal dunia.

“Kejujuran itu penting, jangan takut. Informasi yang jujur akan sangat membantu tugas Tim Medis dalam tata laksana pasien,” kata Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, kepada Pranala.co, Rabu (29/4).

Misalnya, gejala yang tengah pasien alami, berinteraksi dengan orang asing, riwayat perjalanan ke wilayah terpapar COVID-19, maupun ke daerah yang telah ditetapkan sebagai zona merah, dan hal lainnya.

Hanya saja, lanjut Wali Kota Neni, acapkali ada orang yang merasa memiliki kontak erat dengan kasus tidak melapor atau menghindar dari petugas. Alasannya, takut atau khawatir jika melapor ada dampak negatif bagi yang bersangkutan maupun keluarga. Misalkan kontak erat adalah kepala keluarga yang mencari nafkah, bagaimana nanti dengan keluarga, bagaimana nanti stigma masyarakat terhadap dia dan keluarganya.

Oleh karena itu, dia pun mengimbau agar pasien COVID-19 memberikan informasi secara jujur. Sebab tim medis nantinya akan mampu mengidentifikasi penyebab pasien tersebut terpapar COVID-19, meminta pemerintah untuk melakukan disinfektan ke lokasi yang pernah dikunjunginya, termasuk rumah pasien, dan beberapa hal lain.

Dirinya menilai alasan pasien positif COVID-19 tidak memberikan informasi yang benar lantaran khawatir mendapat stigma negatif dari publik. Terutama dari rekannya yang pernah berinteraksi dengannya selama beberapa waktu belakangan. “Kalau seperti itu sebenarnya tidak perlu khawatir. Malah itu merupakan hal yang bagus, jadi kita bisa mengantisipasi agar tidak ada korban lagi,” kata dia.

Dia pun menegaskan, bahwa pengidap positif COVID-19 bukanlah seorang kriminal, sehingga tidak perlu berbohong atau pun menyembunyikan sesuatu. Padahal, kata dia, ketika seorang pasien memberikan informasi secara jujur, maka akan menyelamatkan nyawa banyak orang, termasuk tim medis, agar tidak ikut terpapar virus tersebut.

“Ubah stigma kriminal semacam itu. Ikuti pedoman yang telah dikasih tahu dokter,” ucapnya.

Neni menuturkan, jika pasien malah menyembunyikan informasi kata dia, akan berakibat fatal bagi banyak orang. Oleh karena itu, dia kembali mengimbau kepada para pasien COVID-19 untuk memberikan informasi secara komprehensif perihal riwayat perjalanan mereka.

Pemerintah Kota Bontang ikut bertanggung jawab terhadap dampak dari tindakan maupun kebijakan yang diambil terkait COVID-19. Misalkan fasilitas karantina jika harus dikarantina. Masyarakat juga dapat memberikan bantuan jika yang bersangkutan atau keluarga harus melakukan isolasi mandiri di rumah.

“Karena keterbukaan sangat penting karena memang untuk kepentingan orang banyak. Supaya bisa memudahkan tracking, sehingga kita bisa mencegah penularan ke orang lain yang pernah berinteraksi dengan pasien,” pungkasnya. (*)

More Stories
DBH Cukai Rokok Rp3,47 T, Kaltim Kebagian Rp10,47 juta