BALIKPAPAN, Pranala.co – Waktu adalah uang. Tapi tidak bagi Miswanto, sopir angkot di Balikpapan. Sudah dua hari ini ia lebih sering berada di antrean SPBU ketimbang keliling kota mencari penumpang.
“Setengah jam lebih saya di sini. Kalau seperti ini terus, kami yang kerja harian begini bisa rugi banyak,” keluhnya, sambil tetap menggenggam kemudi, matanya awas pada mobil di depannya yang merayap lambat.
Antrean kendaraan mengular hingga satu kilometer di SPBU Jalan MT Haryono. Di sisi pagar SPBU, selembar kertas bertuliskan “Pertamax dan Pertamax Turbo sedang menunggu pengiriman” terpampang jelas. Bagi masyarakat, tulisan itu jadi semacam peringatan dini bahwa antrean belum akan berhenti.
Ini bukan kali pertama kelangkaan BBM menghantam kota minyak ini. Tapi tetap saja membuat resah. Lalu lintas tersendat. Polisi harus turun tangan untuk mengatur agar jalanan tetap bergerak.
Pihak Pertamina pun angkat bicara. Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Edi Mangun, segera memberikan keterangan resmi. Menurutnya, lonjakan permintaan terhadap BBM berkualitas seperti Pertamax belakangan ini cukup signifikan.
“Kami terus berupaya maksimal memastikan distribusi berjalan lancar, termasuk menambah pasokan dari Fuel Terminal Samarinda,” ujarnya Senin (19/5/2025). Ia juga menyampaikan permintaan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi.
Edi mengungkapkan, real-time monitoring terus dilakukan agar distribusi bisa lebih adaptif dan gangguan serupa bisa dicegah. “Kami optimistis, pasokan Pertamax akan kembali stabil dalam waktu dekat,” ucapnya meyakinkan.
Menariknya, Wali Kota dan wakilnya bahkan mengaku belum mendapat laporan lengkap. Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, menyatakan keterkejutannya.
“Kami agak kaget. Kok bisa Pertamax hilang dari pasaran. Saya belum bisa memberi jawaban pasti,” ujarnya saat sedang meninjau proyek pengerukan DAS Ampal.
Ia berjanji, Pemkot akan menelusuri akar persoalan ini. “Mudah-mudahan bisa segera koordinasi dengan Pertamina,” katanya, sembari menambahkan bahwa informasi yang keliru justru bisa memperkeruh suasana. Karenanya, semua pihak diminta untuk tetap tenang dan tidak melakukan pembelian panik.
Langkah antisipasi sudah disiapkan. Tapi jelas, masyarakat berharap kejadian seperti ini tidak berulang. Karena buat Miswanto dan ribuan warga lainnya, satu jam di antrean SPBU bisa berarti kehilangan rezeki sehari penuh. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami



















Comments 1