BONTANG, Pranala.co – Laut tidak selalu ramah. Bagi Saharuddin, nelayan asal Bontang, hamparan biru yang biasa menjadi sumber penghidupan berubah menjadi ujian hidup dan mati. Setelah lebih dari sepekan dilaporkan hilang akibat kerusakan mesin kapal, ia akhirnya ditemukan dan kembali ke daratan dalam kondisi selamat, Kamis (2/4/2026).
Namun keselamatan itu harus dibayar mahal. Tubuhnya lemah, dehidrasi, dan nyaris kehabisan tenaga setelah berhari-hari tanpa air minum. Saat ini, Saharuddin menjalani perawatan intensif di ruang IGD RSUD Taman Husada Bontang.
Di balik pintu IGD, sang istri, Nasriani, setia menunggu. Wajahnya menyimpan lega sekaligus haru. Ia mengaku belum banyak berbincang dengan suaminya.
“Sampai sekarang saya belum banyak bicara. Kondisinya masih sangat lemas, jadi saya biarkan beliau istirahat dulu,” ujarnya lirih.
Peristiwa ini bermula Senin (23/3/2026), saat Saharuddin melaut seperti biasa. Dua hari pertama berjalan normal, komunikasi dengan keluarga pun masih lancar. Namun Rabu (25/3/2026), situasi berubah drastis. Sebuah kerusakan fatal terjadi pada kapal.
“Ada penggerak baling-baling yang patah, jadi kapalnya tidak bisa berjalan normal,” kata Nasriani, mengulang pesan terakhir suaminya.
Sejak itu, kapal hanya bisa pasrah mengikuti arus. Tanpa kendali, Saharuddin terombang-ambing di tengah laut lepas. Pada Jumat (27/3/2026), komunikasi terputus total, memicu kepanikan keluarga. Laporan segera diajukan ke BPBD Bontang, memicu upaya pencarian.
Selama terdampar, persediaan makanan masih ada. Namun ancaman terbesar datang dari air minum.
“Bekal makan ada, tapi air minumnya habis. Dia sempat minum air tadahan hujan, tapi saat itu tidak ada hujan,” ungkap Nasriani.
Dalam kondisi terdesak, Saharuddin bahkan sampai terpaksa meminum air laut. Langkah ini berisiko tinggi karena kadar garam yang tinggi dapat mempercepat dehidrasi, meningkatkan risiko gangguan fungsi organ hingga kematian.
Beruntung, dengan sisa tenaga, Saharuddin berhasil memperbaiki sambungan kapal yang rusak menggunakan alat seadanya. Meski darurat, langkah itu perlahan membawanya kembali ke dermaga. Warga yang melihat kapal segera mengevakuasi dan membawanya ke rumah sakit.
“Dokter bilang kondisinya sebenarnya baik, hanya kekurangan cairan makanya sangat lemas,” jelas Nasriani.
Saat ini, Saharuddin masih dalam pengawasan intensif. Jika kondisinya stabil, ia akan dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Bagi keluarga yang menunggu di darat, keselamatan menjadi segalanya.
“Bahagia bercampur haru. Saya sangat bersyukur beliau masih diberi keselamatan. Karena beliau adalah tulang punggung keluarga kami,” ucap Nasriani dengan mata berkaca-kaca. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















