URUSAN lampu stadion ternyata bukan sekadar perkara pasang bohlam dan menyalakan sakelar. Di Samarinda, persoalan ini menjadi krusial karena menyangkut nasib markas Borneo FC berlaga di panggung internasional, hingga ambisi membawa Timnas Indonesia ke Kalimantan Timur (Kaltim).
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) akhirnya buka suara dan memberikan klarifikasi teknis mengenai rencana pemindahan lampu dari Stadion Utama Palaran menuju Stadion Segiri. Langkah ini diambil demi mengejar standar pencahayaan kompetisi Super League dan Asian Football Confederation (AFC) tahun 2026.
Saat ini, kualitas pencahayaan di Stadion Segiri baru menyentuh angka 935 lux. Angka tersebut jelas masih jauh dari kata layak. Regulasi ketat Super League dan AFC mematok standar minimum yang tak bisa ditawar: 1.800 lux.
Untuk memotong waktu pengerjaan, Pemprov Kaltim memilih solusi paling efisien, yakni memboyong lampu bermerek Philips dari Stadion Palaran. Dua lembaga kompeten pun telah melakukan simulasi kalkulasi.
Berdasarkan hitungan Dinas PUPR bersama pihak Philips, jika lampu Palaran diboyong, daya pencahayaan Stadion Segiri akan melonjak drastis ke angka 1.667 lux. Artinya, Segiri hanya kekurangan 133 lux atau setara 8 unit lampu tambahan untuk mencapai standar mutlak.
Sementara itu, PSSI mencatat kalkulasi yang sedikit berbeda. Menurut federasi, Stadion Segiri masih membutuhkan tambahan sekitar 300 lux atau setara 10 unit lampu untuk menyentuh titik ideal standar internasional.
Publik sempat khawatir dengan kekuatan tiang penyangga di Segiri. Namun, Pemprov Kaltim memastikan struktur tiang di Stadion Segiri aman dan mampu menampung beban lampu baru. Menariknya, bobot lampu dari Palaran justru lebih ringan daripada lampu lama yang saat ini terpasang di Segiri.
Meski struktur tiang dinyatakan aman, penyesuaian teknis tetap wajib dilakukan pada komponen power supply, drive, hingga bagian bawah tiang.
Plt. Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim, Rasman, menegaskan bahwa proses migrasi teknologi lampu ini tidak boleh dilakukan sembarangan. Ada perbedaan desain pencahayaan, sistem instalasi, konstruksi dudukan, hingga kebutuhan lensa dan kabel yang sangat spesifik.
Seluruh proses pengerjaan di lapangan dipastikan berada di bawah pengawasan ketat tim teknis PSSI.
Waktu yang dimiliki Samarinda sangat mepet. Super League dijadwalkan bergulir awal September 2026, disusul kompetisi AFC pada awal Oktober 2026.
Di sisi lain, ruang anggaran APBD Murni telah terlewati, sedangkan APBD Perubahan belum ditetapkan. Menghadapi situasi ini, Pemprov Kaltim bergerak cepat mencari skema pembiayaan alternatif yang sah agar proyek tidak mandek.
Opsi pembiayaan melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan pertambangan, perkebunan, BUMD Kaltim, serta partisipasi pihak ketiga kini menjadi tumpuan utama. Langkah ini diambil agar pengerjaan fisik di lapangan bisa langsung digenjot tanpa harus terhambat urusan birokrasi anggaran. (*)
















