Pranala.co, BONTANG — Persoalan sampah masih menjadi tantangan serius di perkotaan. Di Kota Bontang, sampah organik dari rumah tangga mendominasi timbunan yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) setiap hari.
Menjawab tantangan itu, PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) menggagas program Urban Farming bertajuk Pengelolaan Sampah Organik dari Sumbernya. Inisiatif ini mendorong masyarakat mengelola sampah sejak dari dapur, sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga.
Program tersebut diluncurkan di Kelurahan Guntung, Bontang Utara, Rabu (17/12/2025).
AVP Agrosolution Pupuk Kaltim Wilayah Kaltimtara, Joko Trisilo, menjelaskan bahwa sekitar 60 persen sampah yang diangkut ke TPA merupakan sampah organik rumah tangga.
“Setiap keluarga rata-rata menghasilkan 1,7 kilogram sampah organik per hari. Dalam setahun bisa mencapai 620 kilogram,” ujar Joko.
Jika tidak dikelola dengan baik, sampah organik berpotensi menimbulkan berbagai persoalan lingkungan. Mulai dari produksi gas metana, pencemaran tanah, hingga gangguan kualitas air.
Melalui program ini, Pupuk Kaltim mendorong perubahan cara pandang masyarakat. Sampah organik yang selama ini dianggap tidak bernilai, diolah menjadi kompos dan media tanam yang bermanfaat.
Pendekatannya sederhana. Dimulai dari pemilahan sampah dapur, pencacahan sisa makanan, hingga proses pengomposan yang higienis dan minim bau.
“Bukan hanya mengurangi beban TPA. Program ini juga membangun kesadaran kolektif untuk mengubah perilaku pengelolaan lingkungan,” kata Joko.
Kelompok Wanita Tani (KWT) dan komunitas perempuan ditempatkan sebagai aktor utama. Peran mereka dinilai strategis karena bersentuhan langsung dengan pengelolaan dapur, edukasi keluarga, serta ketahanan pangan rumah tangga.
Saat ini, tercatat 20 KWT dari berbagai kelurahan di Bontang mendaftar sebagai peserta. Empat di antaranya telah memasuki tahap pendampingan aktif.
Direktur Operasi Pupuk Kaltim, F Purwanto, menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan terhadap pembangunan berkelanjutan.
“Operasional perusahaan harus berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan,” ujarnya.
Dalam program ini, Pupuk Kaltim juga memanfaatkan produk Biodex, bioaktivator berbasis mikroorganisme aktif untuk mempercepat proses pengomposan sampah organik. Biodex membantu meningkatkan ketersediaan unsur hara sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia sintetis.
“Ini adalah inovasi yang mendukung pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan,” kata Purwanto.
Sebagai bentuk dukungan konkret, Pupuk Kaltim menyalurkan bantuan mesin pencacah sampah serta bioaktivator Biodex dan Ecofert kepada masing-masing KWT. Bantuan tersebut diharapkan meningkatkan produktivitas kelompok dalam mengelola sampah organik.
“Program ini akan terus kami kawal melalui pendampingan, monitoring, dan evaluasi agar manfaatnya dirasakan secara berkelanjutan,” tambahnya.
Pemerintah Kota Bontang menyambut positif inisiatif tersebut. Staf Ahli Pemkot Bontang Bidang Pembangunan, Kemasyarakatan, dan SDM, Lukman, menilai program ini sejalan dengan Gerakan Sampahku Itu Tanggung Jawabku (GESIT).
“Kami sangat mengapresiasi urban farming ini. Jika dikelola dengan baik, sampah organik bahkan bisa memberi nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujar Lukman.
Ia berharap program serupa dapat diperluas ke lebih banyak wilayah. Menurutnya, perubahan besar bisa dimulai dari dapur rumah tangga.
“Jika semakin banyak warga mampu mengelola sampah sendiri, dampaknya akan sangat besar bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (ADS)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















