Pranala.co, BONTANG – Menjelang libur panjang Idulfitri 1447 Hijriah, Pemerintah Kota Bontang melalui Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disporaparekraf) memperketat pengawasan di sejumlah destinasi wisata favorit. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan pengunjung sekaligus potensi risiko cuaca ekstrem.
Libur Lebaran tahun ini lebih panjang karena berdekatan dengan Hari Suci Nyepi, sehingga masyarakat memiliki waktu lebih luas untuk berwisata. Salah satu destinasi yang selalu menjadi primadona adalah Pulau Beras Basah, pulau kecil berpasir putih yang berada sekitar 7–12 kilometer dari daratan Bontang. Pulau ini kerap dipadati wisatawan setiap musim liburan.
Kepala Disporaparekraf Bontang, Eko Mashudi, mengatakan kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi perhatian utama. “Hal yang paling perlu diantisipasi saat ini adalah cuaca buruk. Kami sudah berkoordinasi dengan Polres Bontang untuk melakukan langkah antisipasi,” ujarnya, Kamis (12/3/2026).
Beberapa pekan terakhir, cuaca di Bontang sering berubah cepat. Pagi hari terik, namun di siang atau sore hari bisa berubah menjadi hujan disertai angin kencang. Kondisi ini menjadi perhatian khusus karena sebagian besar objek wisata Bontang berupa wisata alam terbuka, seperti kawasan mangrove Berbas Pantai, wisata Bontang Kuala, hingga Pulau Beras Basah.
Petugas Disporaparekraf akan ditempatkan di sejumlah destinasi untuk memantau kondisi cuaca sekaligus memastikan keamanan pengunjung. Jika cuaca berpotensi membahayakan, destinasi wisata akan ditutup sementara.
“Kami tidak ingin ada insiden selama libur Lebaran. Jika kondisi cuaca sangat buruk dan berisiko, destinasi akan ditutup sementara demi keselamatan pengunjung,” tegas Eko.
Pengawasan difokuskan khusus di Pulau Beras Basah, yang selalu menjadi titik paling ramai. Pemerintah akan memantau jumlah wisatawan agar tidak melebihi kapasitas pulau. Jika terlalu padat, keberangkatan kapal dari Pelabuhan Tanjung Laut akan dihentikan sementara.
“Kalau sudah terlalu ramai, kami akan hentikan dulu keberangkatan dari Tanjung Laut. Tujuannya supaya pengunjung tetap nyaman dan tidak berdesakan,” jelas Eko.
Selain itu, pengawasan terhadap kapal penyeberangan diperketat. Pemerintah tidak ingin kapal nelayan membawa penumpang melebihi kapasitas, karena hal ini berpotensi membahayakan keselamatan. Eko menambahkan, meski ini juga menjadi tugas Dinas Perhubungan, Disporaparekraf tetap melakukan pemantauan secara ketat.
Meski menargetkan pendapatan retribusi sektor pariwisata mencapai Rp170 juta, Eko menegaskan bahwa keselamatan dan kenyamanan wisatawan tetap menjadi prioritas utama.
“Yang terpenting, wisatawan yang datang ke Bontang bisa menikmati liburan dengan aman, nyaman, dan membawa pengalaman yang baik,” pungkasnya. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami















