IKON wisata bahari Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) itu sedang dibenahi. Pulau Beras Basah—yang selama ini menjadi wajah pariwisata Bontang—kini memasuki fase penataan. Pemerintah kota memulai dari yang paling terlihat: lapak-lapak terpal di sepanjang pantai.
Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Dispopar-Ekraf) Bontang resmi melayangkan Surat Peringatan (SP) 1 kepada pedagang yang masih menggunakan terpal tidak tertata. Tenggat diberikan satu pekan.
“Ini tahap awal. Kami beri kesempatan pedagang menertibkan sendiri,” kata Kepala Dispora-Ekraf Bontang, Eko Mashudi.
Langkah ini diambil bukan sekadar soal ketertiban. Pemerintah menilai keberadaan terpal yang semrawut mengganggu estetika kawasan sekaligus menurunkan kenyamanan pengunjung.
Padahal, Pulau Beras Basah selama ini dikenal sebagai destinasi unggulan—dengan pasir putih dan air laut jernih sebagai daya tarik utama. Ketika ruang wisata dipenuhi lapak tak tertata, pengalaman wisata ikut tergerus.
Penertiban juga menyasar pola aktivitas pedagang. Mereka diminta berjualan di area pujasera yang telah disiapkan, bukan menyebar di sepanjang garis pantai.
Praktik memaksa pengunjung menyewa terpal pun dilarang. “Wisata harus dikelola dengan baik. Kalau tertata, pengunjung betah,” tegas Eko Mashudi.
Pendekatan yang diambil bersifat bertahap. Jika SP1 tidak diindahkan, pemerintah akan melanjutkan ke SP2.
Eko Mashudi menekankan, langkah ini bukan semata penindakan. Ada upaya edukasi di dalamnya—mengubah pola pengelolaan wisata agar lebih berkelanjutan.
Logikanya sederhana: kawasan yang bersih dan tertata akan menarik lebih banyak wisatawan. Dampaknya, perputaran ekonomi juga meningkat. Dalam jangka panjang, pedagang justru menjadi pihak yang diuntungkan.
Selain penataan lapak, persoalan sampah juga masuk dalam agenda pembenahan. Pemerintah mempertimbangkan melibatkan pihak ketiga untuk mengelola sampah secara lebih profesional.
Di sisi lain, sebagian pedagang diketahui belum memiliki izin resmi. Penertiban ini sekaligus menjadi momentum untuk mendorong kepatuhan terhadap aturan.
Dispopar-Ekraf Bontang menyadari, pembenahan kawasan wisata tidak bisa dilakukan sendiri. Koordinasi lintas instansi tengah disiapkan untuk memastikan penataan berjalan efektif di lapangan.
Targetnya bukan hanya rapi secara visual, tetapi juga tertib secara sistem. Bagi Pemkot Bontang, penataan Pulau Beras Basah bukan pekerjaan jangka pendek. Ini adalah langkah awal menuju perubahan yang lebih besar.
“Harapannya, ini menjadi titik awal pembenahan menyeluruh. Pulau Beras Basah harus menjadi destinasi yang tertib, nyaman, dan berkelanjutan,” kata Eko. [FR]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















