Pranala.co, BONTANG – Rencana pembangunan gudang Perum Bulog senilai sekira Rp24 miliar di Kota Bontang belum dapat direalisasikan sesuai target awal Februari 2026. Proyek strategis tersebut masih terkendala proses administrasi balik nama lahan di Badan Pertanahan Nasional (BPN).
Padahal, dari sisi anggaran dan perencanaan teknis, pembangunan dinyatakan siap dimulai.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Bontang, Ahmad Aznem, mengatakan pekerjaan fisik semula dijadwalkan berjalan pada awal Februari. Namun hingga kini, status kepemilikan lahan belum sepenuhnya rampung secara administratif.
“Sesuai rencana, awal Februari ini sudah mulai pekerjaan fisik. Tetapi kami mendapat informasi masih terkendala proses balik nama status lahan, lebih spesifik terkait saksi di sekitar lahan tersebut,” ujar Ahmad, didampingi Kepala Bidang Ketahanan Pangan DKP3 Bontang, Debora Kristiani.
Lahan seluas 3 hektare di kawasan Bontang Lestari itu sebelumnya merupakan aset Pemerintah Kota Bontang yang telah dihibahkan kepada Perum Bulog. Meski hibah telah dilakukan, pembangunan belum dapat dimulai sebelum seluruh dokumen kepemilikan dinyatakan lengkap dan sah secara hukum.
Proses administrasi di BPN menjadi tahap krusial agar status lahan benar-benar “clear and clean”. Tanpa sertifikat atas nama Bulog, pembangunan tidak bisa dilanjutkan.
Debora Kristiani menjelaskan, perwakilan Bulog dijadwalkan datang ke Bontang pada Senin pekan depan untuk menuntaskan proses tersebut di kantor BPN wilayah setempat.
“Kalau sertifikatnya sudah terbit, pembangunan bisa langsung berjalan. Anggarannya sudah siap, perencanaannya juga sudah selesai,” katanya.
Secara teknis, proyek ini akan dikerjakan bertahap. Pada tahap pertama, akan dibangun satu unit gudang utama. Setelah itu, dilanjutkan dengan pembangunan rumah jaga.
Akses jalan menuju lokasi bahkan telah lebih dahulu disiapkan pemerintah daerah sebagai bagian dari dukungan infrastruktur.
“Jadi tidak langsung sekaligus,” tambah Debora.
Skema bertahap ini dinilai lebih realistis agar pembangunan dapat menyesuaikan kebutuhan dan kesiapan teknis di lapangan.
Lebih dari sekadar pembangunan fisik, keberadaan gudang Bulog disebut sebagai bagian penting dari strategi ketahanan pangan daerah.
Sebagai kota industri, Bontang bukan daerah penghasil utama bahan pangan. Kebutuhan beras dan komoditas strategis lainnya masih sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah.
Dalam kondisi normal, distribusi relatif lancar. Namun ketika terjadi gangguan cuaca, hambatan transportasi, lonjakan permintaan, atau gejolak harga nasional, daerah yang tidak memiliki cadangan memadai berisiko mengalami kelangkaan dan kenaikan harga.
“Dengan adanya gudang Bulog ini, ketersediaan pangan kita akan lebih aman. Selain itu, harga pangan nantinya juga akan lebih stabil,” ujar Debora.
Gudang Bulog nantinya akan difungsikan untuk menyimpan cadangan beras dan komoditas pangan strategis lainnya. Stok tersebut dapat digunakan untuk intervensi pasar saat harga melonjak, sekaligus menjadi penyangga apabila distribusi terganggu.
Dengan demikian, gudang ini diharapkan menjadi sabuk pengaman bagi stabilitas pangan Kota Bontang.
Pemerintah daerah berharap persoalan administrasi lahan segera tuntas sehingga pembangunan dapat dimulai tanpa penundaan lebih lanjut.
“Harapan kami setelah persoalan administrasi lahan selesai, pembangunan bisa segera berjalan dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat,” pungkasnya. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami



















