SANGATTA, Pranala.co — Pagi di Desa Longjak, Kecamatan Busang, Kutai Timur (Kutim) tak pernah benar-benar sederhana. Kabut tipis masih menggantung di atas sungai ketika satu per satu anak berseragam sekolah berdiri di tepian. Tas mereka digendong rapi. Sepatu kadang masih basah oleh embun. Namun yang paling berat bukanlah perjalanan jauh—melainkan keberanian untuk menyeberang.
Di hadapan mereka, sungai mengalir tenang. Tapi di situlah letak ujian setiap hari. Tak ada jembatan penghubung. Satu-satunya cara menuju sekolah adalah dengan perahu kecil yang harus mereka tumpangi—kadang berdesakan, kadang tanpa pelampung, selalu dengan risiko.
Di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur perkotaan serta dominasi sektor tambang dan perkebunan sawit di Kutim, kenyataan di pedalaman ini terasa kontras. Modernisasi seolah berhenti di tepi sungai Longjak.
Kondisi itu mencuat ke publik setelah sebuah video diunggah melalui akun Instagram @emmakfarida77. Rekaman singkat itu memperlihatkan keseharian warga, khususnya para pelajar, yang harus menyeberangi sungai demi mengenyam pendidikan. Tak butuh waktu lama, video tersebut menyebar luas dan memantik keprihatinan.
Dalam video itu, warga menyampaikan harapan yang terdengar sederhana: sebuah jembatan. Harapan yang, menurut mereka, telah lama dinantikan, tetapi belum juga terwujud.
Camat Busang, Uleh Juk, membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut akses utama masyarakat memang masih bergantung pada transportasi perahu.
“Kondisi itu sudah lama. Saya juga baru di sana, jadi belum tahu persis detailnya,” ujarnya mengutip cuitan kaltim, Rabu (8/4/2026).
Menurutnya, pembangunan jembatan bukan perkara mudah. Dibutuhkan anggaran besar dan perencanaan matang.
“Belum masuk musrenbang, karena ini proyek skala besar, harus melalui program multiyears,” jelasnya.
Di sisi lain, Ketua DPRD Kutim, Jimmi, merespons singkat namun memberi harapan. Ia menyatakan akan meninjau langsung lokasi tersebut.
“Nanti kami cek lokasinya,” katanya.
Bagi warga Longjak, waktu berjalan berbeda. Setiap hari tanpa jembatan berarti satu hari lagi anak-anak harus menantang arus demi masa depan. Tak ada pilihan lain.
Di balik seragam putih-merah atau putih-biru itu, tersimpan cerita tentang keteguhan—dan juga tentang ketimpangan. Ketika sebagian daerah berbicara tentang jalan tol dan konektivitas modern, di Longjak, sebuah jembatan sederhana masih menjadi mimpi yang belum tersentuh.
Dan selama jembatan itu belum berdiri, sungai akan tetap menjadi batas. Bukan hanya batas wilayah, tetapi juga batas antara harapan dan kenyataan. (RED/CK)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















