Sangatta, PRANALA.CO – Kolam itu dulunya lubang raksasa. Bekas tambang batu bara milik raksasa energi: PT Kaltim Prima Coal. Tapi hari ini, di kolam itu, ribuan ikan lele berenang. Gemuk-gemuk, siap panen. Dan yang membuatnya jadi berbeda: yang membudidayakan bukan nelayan, bukan petani. Tapi prajurit laut.
Letkol Laut (P) Fajar Yuswantoro, Komandan Pangkalan TNI AL (Lanal) Sangatta, berdiri di tepi kolam bekas tambang itu. Tangannya menunjuk ke keramba-keramba kotak yang mengapung tenang di permukaan air.
“Ini bukan hanya soal ikan. Ini soal ketahanan pangan, dan harapan,” ujarnya, Rabu, 16 April 2025.
Betul. Program ini bukan sekadar budidaya ikan. Tapi bagian dari upaya TNI Angkatan Laut mendukung program ketahanan pangan nasional. Tak tanggung-tanggung, mereka menggandeng pemerintah daerah, dan tentu saja, pihak swasta yang dulunya menggali tanah di sini.
Kolam itu dulunya dalam, penuh batu bara. Sekarang, air tenang, dan kehidupan baru tumbuh di atasnya.
“Sudah panen berkali-kali,” ujar Fajar. “Kami ingin ini jadi contoh: bahwa tanah yang sudah diambil kekayaannya, bisa tetap memberi hidup bagi masyarakat.”
Ikan-ikan lele itu tumbuh dalam keramba yang sederhana. Diberi makan, dirawat, dan saat waktunya tiba: dipanen dan dijual. Hasilnya, cukup untuk menunjukkan satu hal: bekas tambang bukan akhir dari segalanya.
Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman tak bisa menyembunyikan senyum bangganya. “Kalau ikan bisa hidup di air kolam pasca tambang, manusia juga bisa,” katanya.
Ardiansyah percaya, bekas tambang seperti ini seharusnya tak dibiarkan kosong. “Airnya bisa digunakan, dan lokasinya bisa dijadikan tempat wisata. Bisa disinergikan dengan Dinas Pariwisata,” ujarnya penuh harap. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami




















Comments 1