Kawasan Sangkulirang-Mangkalihat bakal Dikembangkan jadi Ekowisata

Kawasan karst Sangkulirang, Kutai Timur.

PRANALA.CO, Sangatta – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif  (Kemenparekraf) mempersiapkan program dan strategi bangkit pasca pandemi melalui pengembangan pariwisata minat khusus berbasis alam serta edukasi dan implementasi terkait protokol CHSE (cleanliness, health, safety, environment).

“Kalimantan mempunyai potensi alam yang luar biasa. Pariwisata dapat hadir sebagai sebuah sektor pelapis kedua untuk menjadi tulang punggung pendapatan daerah,” tutur Drs. Alexander Reyaan M.M selaku Direktur Wisata Alam, Budaya dan Buatan, dalam FGD Sangkulirang Road to Adventure di Sangatta, Kalimantan Timur, Kamis (19/11).

Diketahui, kawasan Karst Kalimantan Timur merupakan salah satu peninggalan batuan kapur yang cukup tua di Indonesia.

Struktur tebing bebatuan yang kokoh nan indah menjadi daya tarik tersendiri. Terdapat juga lorong rongga yang membentuk gua bawah tanah dan berisikan lukisan tangan pra sejarah dengan ragam kisah di baliknya.

Berlokasi di dua kabupaten yaitu Kutai Timur dan Berau, Karst Sangkulirang, Mangkalihat ini berada di kondisi geografis dan alam yang dapat menjadi peluang pengembangan pariwisata minat khusus berbasis alam.

Menurut Alex, wisatawan memiliki kecenderungan memilih ekowisata sebagai pilihan utama atau prioritas. “Karena dengan banyaknya area terbuka, akan lebih meminimalisir resiko tersebar/ tertular pandemi Covid-19,” katanya.

Ekowisata, dikatakan Alex, juga harus menerapkan pedoman menjaga lingkungan hidup dan keberagamannya dalam menjalankan konsep wisata berkelanjutan (sustainability tourism) serta penerapan  protokol kebersihan, kesehatan, keamanan, dan ramah lingkungan atau CHSE.

“Maka itu kami juga memberikan program dukungan terhadap komunitas lokal dalam upaya bersama meningkatkan pengembangan pariwisata minat khusus berbasis alam,” tambah Alex.

Adapun bentuk dukungan yang diberikan kepada komunitas yang juga merupakan pekerja di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yaitu berupa penyediaan peralatan dan perlengkapan climbing.

Dukungan yang diberikan pada saat kegiatan FGD Sangkulirang Road to Adventure Travel ini bertujuan selain untuk membangkitkan kembali pariwisata melalui Komunitas Ekowisata Kabupaten Berau Kerima Puri (Hutan Nan Asri) dan Komunitas Ekowisata Kabupaten Kutai Timur Seribu Menara Karst (Personifikasi Gunung Gergaji) juga untuk memberikan rasa aman kepada para wisatawan ekowisata di Kawasan Karst Sangkulirang.

Menurut Data Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kaltim, bentang alam Karst Sangkulirang-Mangkalihat diisi 110 izin perkebunan, 40 konsesi kehutanan, 26 pertambangan batu bara, dan 16 izin tambang batu gamping. Jika izin-izin itu keluar, maka beragam ancaman perusakan lingkungan terjadi secara nyata. Salah satunya adalah rusaknya sumber air baku di dua kabupaten dan rusaaknya situs sejarah purbakala cap tangan cadas yang ada di goa-goa karst Sangkulirang-Mangkalihat.

“Yang paling dikenal dari karst sangkulirang mangkalihat adalah situs sejarah purbakala cap tangan manusia purba. Kalau karst rusak, tidak menutup kemungkinan gambar-gambar itu juga akan hilang,” sebut Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi Berau Pantai, Hamzah.

Dijelaskan Hamzah, bentang alam karst merupakan salah satu bentang lahan yang unik dari sisi geologis maupun hidrologis. Memiliki luas sekitar 2.465.318 hektare, kawasan tersebut terdiri dari beberapa blok karst utama. Seperti Blok Suaran, Merabu-Kulat, Batu Onyen, Gergaji, Sekerat, Tutunambo-Nyere, Tabalar-Domaring, dan Mangkalihat. Setiap blok karst di kawasan itu, memiliki keunikan geomorfologi yang berbeda. Secara umum terdapat tiga tipe karst yang berkembang di kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat, yaitu tipe karst labirin, menara, dan conical.

“Tidak hanya itu, bentangan alam itu juga memiliki nilai-nilai penting berbasis alam dan budaya. Sehingga harus pelihara dan dimanfaatkan dengan memperhatikan aspek kelestariannya. Salah satu upaya yang bisa ditempuh adalah pengembangan dilakukan dengan investasi hijau dan berkelanjutan,” ujarnya.

Nilai-nilai yang terkandung, lanjut dia, adalah nilai penting geodiversitas, nilai penting hidrologi, nilai penting karbon, nilai penting budaya dan nilai penting biodiversitas. Menurutnya, nilai-nilai itu telah diusulkan Pemerintah Indonesia agar UNESCO menjadikan Karst Sangkulirang-Mangkalihat sebagai salah satu warisan dunia.

“Siapapun yang melihat bentangan alam itu, tidak mungkin tidak jatuh cinta. Di lihat dari atar, bentangan itu membentuk surga di tengah rimba. Betapa beruntungnya Kalimantan Timur, sebagai pemiliknya,” ujar Hamzah.

Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat, merupakan tangki air raksasa yang menyimpan sumberdaya air sangat besar. Air yang tersimpan di bawah permukaan kawasan itu membentuk tandon-tandon rahasi, yang mengalir cepat melalui saluran besar ke dalam saluran sungai bawah tanah dan keluar ke mata air.

Hamzah menyebut, simpanan air tersebut merupakan cadangan air yang sangat besar, yang dapat digunakan untuk pemenuhan kebutuhan air baik untuk saat ini maupun masa yang akan datang.

 

 

[id|tribun]

More Stories
Update Covid-19 Kaltim: 1 Sembuh dan 2 Positif, Semua dari Klaster Gowa