Pranala.co, BONTANG – Harapan itu sempat menyala. Tapi padam begitu saja.
Pekan lalu, ribuan pencari kerja mendatangi Job Fair yang digelar Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Bontang. Mereka datang membawa map. Membawa ijazah. Membawa pengalaman. Dan tentu saja—membawa harapan.
Namun, yang mereka bawa pulang bukan kabar baik. Melainkan kebingungan.
DW, warga Bontang Kuala, salah satunya. Ia melamar ke sebuah perusahaan perbankan. Berkas lengkap. Pengalaman kerja ada. Tapi saat pengumuman keluar, namanya tak ada.
“Enggak ada keterangan. Cuma nama-nama yang lolos saja. Kita yang gagal seperti tidak dianggap,” ujarnya kecewa.
DW bukan satu-satunya.
Dari berbagai penjuru kota, pelamar mulai bersuara. Mereka merasa proses seleksi tertutup. Tak ada transparansi. Nama-nama yang lolos—kata mereka—sering itu-itu saja.
“Teman saya sudah tiga kali ikut program Turn Around (TA). Dan tiga kali lolos. Saya ikut baru sekali, langsung gugur. Tapi enggak tahu kenapa,” keluh NO, lulusan SMK dari Bontang Utara.
Ia tidak iri. Ia hanya ingin tahu.
Tapi tak ada ruang untuk bertanya. Tak ada evaluasi. Tak ada penjelasan. Yang ada hanya pengumuman tanpa konteks. Kotak hitam yang tak bisa diintip.
“Kalau memang gagal, ya enggak apa-apa. Tapi kasih tahu kenapa. Supaya kami bisa belajar,” ucap IN, pelamar lainnya.
Menurut IN, proses ini seperti undian. Tapi bedanya, tidak semua peserta tahu apakah kupon mereka masuk ke dalam kotak.
Disnaker Bontang memang rutin menggelar Job Fair tiap tahun. Tapi belakangan, publik mulai ragu. Mereka menganggap acara ini hanya formalitas. Sekadar seremonial. Harapan dikumpulkan ramai-ramai, lalu diam-diam dilipat dan dibuang.
Padahal, ini program pemerintah. Harusnya bisa dikritisi. Harusnya bisa diawasi.
Keluhan serupa juga pernah muncul tahun lalu. Tapi tahun ini, nadanya lebih tajam. Sebab kepercayaan mulai pudar.
Jika sistem seleksi tidak dibuka, jika peserta terus dibiarkan bertanya tanpa jawaban, maka jangan salahkan mereka jika mulai kehilangan keyakinan. (FR)

















