Pranala.co, SAMARINDA — Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur (Kaltim) kembali menunjukkan ketahanan di tengah tekanan global. Pada kuartal III tahun 2025, ekonomi Kaltim tumbuh 4,26 persen (year on year/YoY). Meski melambat dibanding periode sama tahun lalu yang mencapai 5,52 persen, angka ini tetap menandakan ekonomi Kaltim masih tangguh.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, Yusniar Juliana, menyebut nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp218,19 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp149,27 triliun.
“Secara kuartalan, ekonomi Kaltim tumbuh 0,88 persen (QtQ), melambat dibanding kuartal II yang tumbuh 2,26 persen,” kata Yusniar dalam rilis resmi, Rabu (5/11/2025).
Sektor industri pengolahan menjadi bintang utama kali ini. Pertumbuhannya melesat 13,96 persen, tertinggi di antara seluruh sektor. Menurut Yusniar, capaian ini menunjukkan arah transformasi ekonomi Kaltim yang mulai beranjak dari ketergantungan pada batu bara menuju industri bernilai tambah.
Disusul oleh administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib yang tumbuh 12,97 persen, serta penyediaan akomodasi dan makan minum yang naik 12,32 persen. Ketiga sektor ini menjadi penggerak ekonomi baru di luar pertambangan.
Namun tidak semua sektor bersinar. Pertambangan dan penggalian, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Kaltim, justru mengalami kontraksi 0,22 persen.
Sektor konstruksi juga menyusut 1,40 persen, mencerminkan perlambatan sejumlah proyek infrastruktur. Sedangkan jasa keuangan dan asuransi anjlok paling dalam, minus 6,13 persen.
“Tren ini harus menjadi perhatian bersama. Ketika sektor tambang melemah, industri dan jasa harus siap mengambil peran,” ujar Yusniar.
Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa tetap menjadi motor utama dengan pertumbuhan 5,73 persen, ditopang meningkatnya permintaan produk industri pengolahan di pasar luar wilayah.
Kontribusi ekspor terhadap struktur PDRB Kaltim mencapai 115,28 persen, meski harus dikurangi dengan impor yang juga naik 5,81 persen.
Sementara itu, belanja pemerintah melonjak 15,95 persen secara kuartalan, mencerminkan percepatan realisasi anggaran menjelang akhir tahun. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 2,54 persen, dan konsumsi rumah tangga naik 4,53 persen, menunjukkan daya beli masyarakat masih terjaga.
Secara kumulatif, dari Januari hingga September 2025, ekonomi Kaltim tumbuh 4,35 persen (year to date/YtD) dibanding periode sama tahun lalu. Di tingkat regional, ekonomi Pulau Kalimantan tumbuh 4,70 persen, dan Kaltim menyumbang 45,61 persen nilai tambah ekonomi Kalimantan — terbesar di antara provinsi lainnya.
Struktur ekonomi Kaltim masih didominasi lima sektor utama: Pertambangan dan penggalian (33,19%); Industri pengolahan (20,61%); Konstruksi (11,80%); Pertanian, kehutanan, dan perikanan (9,58%); Perdagangan besar dan eceran (7,70%).
Yusniar menegaskan, tantangan ke depan adalah memperkuat sektor hilir industri agar ekonomi Kaltim tidak terlalu bergantung pada komoditas mentah. “Kuncinya di diversifikasi dan nilai tambah,” ujarnya. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami


















