Samarinda, PRANALA.CO – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) resmi menyatakan kesiapan penuh untuk menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-45 Tingkat Provinsi Kalimantan Timur (Kalti), yang akan digelar pada Juli 2025 mendatang.
Bukan sekadar ajang lomba keagamaan, Pemkab Kutim ingin menjadikan momen ini sebagai ruang kolaborasi, penguatan ukhuwah Islamiyah, dan kebangkitan identitas religius daerah.
Hal tersebut ditegaskan Asisten I Sekretariat Daerah Kutim, Poniso Suryo Renggono, dalam kunjungannya ke Sekretariat LPTQ Provinsi Kaltim, Jalan Awang Long, Samarinda, Jumat (11/4/2025).
“Kami datang untuk menyampaikan langsung kesiapan Kutim menjadi tuan rumah MTQ ke-45. Ini bukan sekadar seremoni, tapi sebuah kehormatan dan tanggung jawab besar. Karena itu, kami terbuka menerima masukan agar pelaksanaannya benar-benar optimal dan berkesan,” ujar Poniso di hadapan pimpinan rapat, Dasmiah, Wakil Ketua II LPTQ Kaltim yang juga menjabat sebagai Kepala Biro Kesra Setprov Kaltim.
Poniso hadir bersama Kepala Kemenag Kutim Ahmad Barkati, jajaran LPTQ dan Bagian Kesra Kutim. Dalam paparannya, ia menjelaskan kesiapan venue utama, arena musabaqah, tenaga liaison officer (LO), hingga desain awal logo dan maskot kegiatan.
Namun, pembahasan maskot sempat memicu diskusi menarik. Maskot awal yang menampilkan gambar singa menuai kritik karena dinilai mengandung unsur makhluk bernyawa—sesuatu yang kerap sensitif dalam konteks simbol keagamaan.
Menanggapi hal itu, Poniso menyampaikan komitmen Pemkab Kutim untuk mengakomodasi saran tersebut. “Kami terbuka untuk modifikasi desain agar tetap menarik, inspiratif, dan sejalan dengan nilai-nilai keislaman,” katanya.
Sebagai bentuk keseriusan, Pemkab Kutim berencana menggelar ekspose lanjutan yang akan menghadirkan LPTQ provinsi, Kemenag, perwakilan kabupaten/kota, dan stakeholder terkait.
Sementara itu, jajaran pengurus LPTQ Kaltim yang hadir dalam pertemuan antara lain Wakil Ketua I Drs. H. Abdul Khaliq (Kakanwil Kemenag Kaltim), Wakil Ketua III Dr. H. Moh. Jauhar Efendi, Bendahara Umum Rudian Setiawan, serta Prof. Bambang Iswanto dan anggota lainnya.
MTQ ke-45 ini diharapkan tak hanya menjadi ajang unjuk bakat membaca Alquran, tapi juga menjadi panggung bagi Kutim dalam menunjukkan kesiapan sebagai daerah yang mampu menyelenggarakan kegiatan besar yang berlandaskan nilai spiritual, budaya, dan kearifan lokal.
“MTQ bukan semata-mata kompetisi. Ini adalah momentum memperkuat kecintaan pada Alquran, membangun kebersamaan, dan menebar semangat kebaikan di seluruh Kalimantan Timur,” tutup Poniso. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami



















Comments 2