Pranala.co, BONTANG – Cakupan imunisasi di Kota Bontang masih jauh dari target. Hingga September 2025, hanya 38,26 persen atau sekira 1.212 anak yang sudah mendapat imunisasi. Padahal, target nasional dari Kementerian Kesehatan menuntut capaian minimal 95 persen.
Angka yang rendah ini membuat Pemerintah Kota Bontang harus bergerak cepat. Sebab, campak bukan penyakit sepele. Penularannya cepat dan bisa berakibat fatal jika tidak segera ditangani.
Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris menegaskan, penyebab utama rendahnya imunisasi bukan karena kurangnya layanan. Tapi, masih banyak warga yang keliru memahami vaksin.
“Masih banyak yang salah paham soal vaksin. Karena itu, pertemuan hari ini kami gunakan untuk berdiskusi dan mencari akar masalahnya,” ujar Agus dalam sosialisasi cakupan imunisasi, Senin (6/10) malam di Aula 3 Dimensi.
Menurutnya, campak tidak boleh dianggap enteng. Ia mencontohkan, 11 warga Bontang sempat positif campak, namun kini semuanya sembuh setelah mendapat penanganan cepat dari Dinas Kesehatan melalui puskesmas.
“Alhamdulillah semua sudah sembuh. Tapi ini bukan berarti masalah selesai. Campak bisa muncul lagi kalau kita lengah,” tegas Agus.
Untuk mencegah penularan, Pemkot Bontang menggelar rapat koordinasi bersama seluruh RT dan sekolah. Sebab, anak-anak merupakan kelompok yang paling mudah tertular.
“Daya tahan tubuh mereka berbeda dengan orang dewasa. Selain itu, aktivitas mereka banyak di sekolah. Makanya ini jadi perhatian kita,” katanya.
Langkah lain yang tak kalah penting adalah edukasi soal vaksin. Pemerintah menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kementerian Agama (Kemenag), dan tenaga kesehatan sebagai narasumber sosialisasi.
“Kami ingin masyarakat yakin bahwa imunisasi itu aman dan halal. Kemenag sudah menegaskan, vaksin diberikan demi kesehatan, bukan sebaliknya. Jadi jangan ragu untuk vaksin,” tegasnya.
Agus juga mengingatkan bahwa setiap daerah berpotensi mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) jika tidak waspada. Bahkan, dua kasus campak saja sudah bisa masuk kategori KLB karena tingkat penularannya sangat tinggi.
“KLB itu bukan soal banyaknya kasus, tapi seberapa cepat dampaknya menyebar. Satu kasus saja bisa berbahaya kalau tidak segera ditangani,” ujarnya.
Ia mengapresiasi kerja keras Dinas Kesehatan dan puskesmas yang terus aktif melakukan penelusuran serta edukasi kepada masyarakat.
“Yang penting sekarang, kita luruskan pemahaman, tingkatkan imunisasi, dan jaga anak-anak kita tetap sehat,” tegas Wawali Bontang, Agus Haris. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami









