Pranala.co, BONTANG — Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang mencatat perkembangan yang perlu diwaspadai terkait penyebaran HIV/AIDS di kalangan remaja. Dari 42 kasus baru yang ditemukan sepanjang tahun ini, lima di antaranya berasal dari kelompok usia 15–19 tahun.
Angka itu menjadi sinyal bahaya. Ketua Tim Kerja Pengendalian Penyakit Menular, Nur Ilham, menyebutnya sebagai peringatan dini. Sebab, infeksi pada remaja biasanya berkaitan dengan paparan yang terjadi beberapa tahun sebelumnya.
“Ada kasus anak 15 tahun sudah terinfeksi. Ini bukti bahwa penularan bisa terjadi lebih awal tanpa disadari,” ujar Ilham, Senin (1/12/2025).
Ilham menjelaskan, HIV berkembang secara perlahan. Gejala berat umumnya baru muncul ketika infeksi sudah bertahun-tahun berada dalam tubuh.
“Banyak orang baru merasakan tanda-tanda AIDS setelah lima sampai sepuluh tahun tertular. Karena itu, pencegahan harus dimulai lebih dini,” tegasnya.
Untuk menahan laju penularan di kalangan muda, Dinkes Bontang memperkuat program edukasi di tingkat SMP dan SMA. Ada tiga pilar materi yang kini menjadi fokus utama.
Pertama, pengetahuan dasar tentang HIV/AIDS, agar remaja memahami cara penularan dan pentingnya perlindungan diri.
Kedua, materi tentang bahaya penyalahgunaan NAPZA, terutama penggunaan jarum suntik bersama yang berisiko tinggi menularkan virus. Ketiga, pendidikan kesehatan reproduksi, dengan tujuan membekali remaja agar dapat membuat keputusan yang aman.
“Tiga pilar ini adalah fondasi agar remaja tahu bagaimana melindungi diri,” ucapnya.
Di tengah meningkatnya kasus, Ilham juga menyoroti masih banyaknya mitos seputar HIV/AIDS yang membuat masyarakat salah memahami risiko penularan.
Ia menegaskan bahwa HIV tidak menular melalui aktivitas harian seperti makan bersama, bersalaman, berbicara, atau menggunakan toilet umum.
“Penularan hanya terjadi melalui kontak dengan darah, cairan sperma, cairan vagina, atau luka terbuka,” jelasnya.
Ia berharap pemahaman publik dapat terus diperkuat lewat kolaborasi antara pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat. Baginya, edukasi terbuka menjadi kunci utama.
“Pencegahan HIV bukan topik yang harus disembunyikan. Ini menyangkut masa depan generasi muda,” tutup Ilham. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















