SAMARINDA, Pranala.co – Penyakit campak kembali mengancam kesehatan masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim). Data terbaru menunjukkan cakupan imunisasi campak di wilayah ini baru mencapai 65 persen, masih tertinggal 30 persen dari target nasional sebesar 95 persen.
Kondisi ini membuat sekira 30 persen anak-anak di Bumi Etam masih berada dalam zona rentan terkena penyakit menular yang bisa berakibat fatal tersebut. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan alias Diskes Kaltim, Fit Nawati, mengungkapkan keprihatinannya atas rendahnya angka imunisasi ini.
“Masih cukup jauh cakupan kita. Sekira 30 persen anak masih belum terjangkau imunisasi,” ujarnya dengan nada serius saat menjadi pembicara dalam kegiatan sosialisasi Waspada Campak pada Anak, Senin (16/3/2026).
Campak, penyakit yang disebabkan oleh virus dengan penyebaran yang sangat cepat, umumnya menyerang anak-anak. Fit Nawati menjelaskan gejala khas penyakit ini dimulai dengan demam tinggi, disertai batuk, pilek, dan mata merah.
“Kalau kita lihat dari gejalanya, biasanya demam, batuk, pilek, mata merah, dan dapat menimbulkan bercak-bercak merah pada kulit,” jelasnya.
Yang lebih membahayakan, kelompok bayi dan balita yang tidak mendapatkan imunisasi menjadi sasaran empuk virus ini. Tidak hanya itu, orang dewasa dengan status gizi buruk juga berpotensi menjadi sumber penularan, menciptakan rantai penyebaran yang sulit diputuskan.
Pemerintah telah melakukan penyesuaian terhadap jadwal pemberian imunisasi campak. Jika sebelumnya hanya diberikan sekali pada usia 9 bulan, kini imunisasi wajib diberikan tiga kali: saat bayi berusia 9 bulan, 18 bulan, dan ketika anak duduk di kelas 1 Sekolah Dasar.
Namun, realita di lapangan masih menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data Diskes Kaltim, capaian imunisasi pada bayi usia 9 bulan baru mencapai sekira 62 persen, sementara pada usia 18 bulan angkanya lebih rendah lagi, yakni sekira 60 persen.
Di tengah kekhawatiran akan rendahnya cakupan imunisasi, ada secercah harapan dari jalur pendidikan. Capaian imunisasi campak untuk anak kelas 1 SD mencapai angka yang jauh lebih membanggakan, yakni 92 persen.
“Alhamdulillah untuk anak kelas 1 SD cakupannya sudah mencapai sekitar 92 persen, karena melalui sekolah kita bisa melakukan edukasi kepada orang tua dan guru sehingga anak-anak lebih mudah mendapatkan imunisasi,” ungkap Fit Nawati.
Keberhasilan di tingkat sekolah dasar ini menjadi bukti bahwa edukasi intensif dan kerja sama antara pihak sekolah dengan orangtua dapat menjadi kunci peningkatan cakupan imunisasi.
Diskes Kaltim menegaskan perlunya peran aktif masyarakat, khususnya para orang tua yang memiliki bayi dan balita. Mereka diimbau untuk segera membawa anak-anaknya ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan imunisasi campak sesuai jadwal.
Selain vaksinasi, masyarakat juga disarankan untuk meningkatkan daya tahan tubuh dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai benteng pertahanan tambahan terhadap serangan virus. (RE)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami



















