Pranala.co, BONTANG – Ancaman longsor menghantui warga RT 26 Kelurahan Gunung Telihan, Kota Bontang. Empat rumah warga dilaporkan terdampak setelah bantaran sungai di belakang permukiman ambrol akibat tergerus arus air yang meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
Peristiwa tanah longsor tersebut terjadi Sabtu (28/2/2026) sekira pukul 18.29 Wita. Tidak lama setelah pelaksanaan Salat Tarawih atau sekira pukul 20.40 Wita, Lurah Gunung Telihan M Cholid Hanafi bersama Ketua RT 26, Martinus, langsung turun ke lokasi untuk memastikan kondisi warga serta tingkat kerusakan yang terjadi.
Longsor dipicu tingginya debit air sungai yang berasal dari wilayah hulu dan melintasi kawasan Masdarling sejak pertengahan Februari lalu. Arus air yang deras secara perlahan mengikis bantaran sungai hingga akhirnya tanah di bagian belakang rumah warga runtuh dan jatuh ke aliran sungai.
Akibat kejadian tersebut, sejumlah bangunan mengalami kerusakan serius. Pondasi rumah dilaporkan mulai retak, bahkan sebagian lantai rumah terdampak karena struktur tanah penyangga tidak lagi stabil.
Berdasarkan pendataan sementara, empat rumah warga yang terdampak masing-masing milik Agus, Suprianto, Samsuri, dan M. Tah.
Warga mengaku khawatir kondisi tanah yang terus terkikis dapat menyebabkan bangunan roboh sewaktu-waktu, terutama jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi.
Ketua RT 26, Martinus, menyampaikan bahwa masyarakat sangat membutuhkan dukungan pemerintah untuk penanganan darurat di lokasi terdampak.
Menurutnya, kondisi tanah di belakang rumah warga sudah tidak mampu lagi menahan beban bangunan sehingga berpotensi menimbulkan risiko keselamatan bagi penghuni.
“Kami berharap ada langkah cepat agar kerusakan tidak semakin parah dan keselamatan warga tetap terjaga,” ujarnya saat mendampingi peninjauan lapangan.
Menanggapi kondisi tersebut, Lurah Cholid memastikan pemerintah kelurahan segera berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait guna melakukan langkah penanggulangan awal.
Ia menjelaskan, wilayah Gunung Telihan berada pada jalur hulu aliran air menuju Kota Bontang. Ketika terjadi hujan lebat di daerah luar kota, volume air dapat meningkat secara signifikan dan mempercepat proses erosi bantaran sungai.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi menimbulkan kerugian material yang lebih besar bahkan mengancam keselamatan jiwa apabila tidak segera ditangani.
Dirinya berkomitmen untuk terus melakukan pemantauan di lokasi serta memperkuat koordinasi lintas sektor guna mempercepat penanganan.
Langkah ini diharapkan mampu meminimalkan risiko longsor susulan sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat yang tinggal di kawasan bantaran sungai.
Sementara itu, warga diminta tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama saat curah hujan tinggi, sembari menunggu penanganan teknis dari instansi terkait. (RED)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















