MENYALAKAN keran air di pagi hari mungkin perkara sepele bagi sebagian orang. Namun, bagi belasan ribu jiwa di Kecamatan Kaliorang dan Kecamatan Sangkulirang, Kutai Timur (Kutim), setiap tetes air yang keluar adalah hasil dari perjuangan yang tidak mudah di hulu.
Saat ini, kucuran air bersih memang masih mengalir ke rumah-rumah warga. Masalahnya, di balik ketenangan itu, ada alarm bahaya yang mulai berbunyi nyaring. Sumber air baku yang menjadi jantung pelayanan kini posisinya tekor alias tidak seimbang lagi dengan kebutuhan warga.
Berdasarkan data terbaru dari Perusahaan Umum Daerah Air Minum Tirta Tuah Benua (Perumdam TTB) Kutim, SPAM Kaliorang sebenarnya memiliki kapasitas terpasang yang cukup megah, yakni 50 liter per detik sejak dibangun pada 2017 lalu.
Instalasi di Desa Bukit Makmur ini memikul tanggung jawab besar. SPAM ini harus menghidupi 2.321 sambungan langganan (sekitar 11.605 jiwa) di Kaliorang, sekaligus menyokong 1.375 sambungan rumah (sekira 6.875 jiwa) di Sangkulirang. Jika ditotal, ada lebih dari 18.000 jiwa yang menggantungkan hidupnya pada sistem ini.
Sayangnya, kapasitas besar itu kini mubazir. Dua sumber air baku andalan, yakni Mata Air PT GMP dan Mata Air PT Aphi-Aphi, rata-rata hanya mampu menyemburkan air sebanyak 30 liter per detik.
Padahal, untuk membuat air tetap mengalir lancar ke pelanggan yang ada sekarang, Perumdam membutuhkan minimal 35 liter per detik. Ada minus 5 liter per detik yang setiap hari harus disiasati. Kesenjangan inilah yang memicu ancaman krisis air baku di wilayah tersebut.
Kondisi lapangan kian pelik jika melihat bentang geografisnya. Bayangkan saja, untuk mengalirkan air bersih ke rumah warga di Sangkulirang, air harus dipompa dan mengalir sejauh 21,6 kilometer dari Booster Kaliorang.
Jarak sejauh itu bukan tanpa risiko. Semakin panjang pipa, semakin besar pula tantangan untuk menjaga tekanan air agar tetap stabil hingga ke ujung pemukiman warga.
Direktur Utama Perumdam TTB Kutim, Suparjan, mengakui bahwa keterbatasan debit air baku ini menjadi ujian berat yang harus segera mereka selesaikan bersama Pemkab Kutim.
"Saat ini sumber air baku yang tersedia rata-rata hanya sekitar 30 liter per detik. Sementara kebutuhan untuk menjaga pelayanan secara kontinyu mencapai 35 liter per detik. Karena itu, kami perlu langkah-langkah optimalisasi segera," ungkap Suparjan.
Lantas, apa solusi konkrit yang disiapkan? Suparjan menegaskan pihak manajemen tidak tinggal diam melihat ancaman ini. Sejumlah strategi darurat dan jangka panjang kini mulai dieksekusi.
Langkah pertama adalah memperbesar kapasitas bak penampung di lokasi mata air yang sudah ada sekarang. Selain itu, pengamanan kawasan sekitar mata air diperketat agar debitnya tidak semakin merosot.
Perumdam juga mulai melirik potensi infrastruktur lain. Mereka berencana memanfaatkan embung yang sudah terbangun di Desa Benua Baru Ulu dan Desa Benua Baru Ilir untuk menambal kekurangan pasokan.
"Kami berupaya memaksimalkan seluruh potensi yang tersedia, mulai dari peningkatan kapasitas penampungan, pemanfaatan embung, hingga pengembangan sumber air baru agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara berkelanjutan," pungkas Suparjan. [RIL]

















