BALIKPAPAN, Pranala.co – Peta kecelakaan lalu lintas di Kalimantan Timur (Kaltim) selama pelaksanaan Operasi Ketupat Mahakam 2026 mulai terbaca. Angkanya naik. Polanya berubah. Dan satu hal menonjol: sepeda motor masih mendominasi.
Direktorat Lalu Lintas Polda Kalimantan Timur merilis hasil analisis terbaru. Evaluasi ini mengurai tiga faktor utama—kendaraan, perilaku pengendara, serta waktu dan lokasi kejadian—yang saling berkaitan dalam membentuk pola kecelakaan.
Kepala Bagian Operasional (KBO) Ditlantas Polda Kaltim, Feby Febriana, mengungkapkan lonjakan paling mencolok terjadi pada kendaraan roda dua.
“Sepeda motor mendominasi dengan 33 kejadian pada 2026, naik dari 22 kejadian pada 2025 atau meningkat 50 persen,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).
Namun, peningkatan tidak hanya terjadi pada satu jenis kendaraan. Mobil penumpang juga melonjak tajam, dari 5 menjadi 13 kejadian—naik 160 persen. Sementara mobil barang meningkat dari 4 menjadi 8 kejadian.
“Artinya, potensi kecelakaan kini lebih merata dan tidak hanya didominasi satu jenis kendaraan,” kata Feby.
Dari sisi pola tabrakan, kecelakaan depan-depan masih menjadi yang paling sering, dengan 10 kejadian. Disusul tabrakan depan-belakang sebanyak 5 kejadian.
Namun, perubahan signifikan terjadi pada tabrakan depan-samping. Angkanya melonjak dari 2 menjadi 7 kejadian, atau meningkat hingga 250 persen.
“Ini menunjukkan adanya pergeseran pola kecelakaan yang perlu menjadi perhatian bersama,” ujarnya.
Dari aspek pengendara, data menunjukkan pelaku kecelakaan didominasi pemegang SIM A yang naik dari 4 menjadi 9 kasus. Di sisi lain, pengendara tanpa SIM masih cukup tinggi, mencapai 12 kasus. Sementara itu, pemegang SIM C juga mengalami peningkatan dari 1 menjadi 4 kasus.
Dari kelompok usia, kecelakaan masih didominasi usia produktif. Kelompok usia 41–45 tahun meningkat dari 3 menjadi 6 kasus. Usia 46–50 tahun naik dari 1 menjadi 4 kasus. Bahkan, kelompok usia di atas 60 tahun yang sebelumnya nihil kini tercatat 2 kejadian.
Dari sisi pekerjaan, karyawan atau pekerja swasta menjadi kelompok paling banyak terlibat, dengan kenaikan dari 8 menjadi 16 kasus. Tingginya mobilitas harian diduga menjadi salah satu faktor pemicu.
Analisis juga mengungkap lokasi rawan kecelakaan. Kawasan permukiman menjadi titik paling dominan dengan 28 kejadian, naik dari 13 kasus tahun sebelumnya.
Selain itu, kecelakaan di jalan nasional meningkat dari 6 menjadi 15 kejadian, serta di jalan kabupaten/kota dari 7 menjadi 12 kejadian.
Dari sisi waktu, sore hari menjadi periode paling rawan. Kecelakaan terbanyak terjadi pada pukul 15.00–18.00 Wita dengan 9 kejadian, disusul pukul 12.00–15.00 Wita sebanyak 7 kejadian.
“Ini menunjukkan aktivitas masyarakat pada jam-jam tersebut cukup tinggi sehingga berpengaruh terhadap risiko kecelakaan,” jelas Feby.
Hasil pemetaan ini tidak berhenti sebagai catatan. Ditlantas Polda Kaltim memastikan data tersebut akan menjadi dasar dalam merumuskan langkah penanganan yang lebih tepat sasaran.
Upaya preemtif dan preventif akan diperkuat. Pendekatan berbasis data dinilai penting untuk meningkatkan efektivitas dalam menekan angka kecelakaan lalu lintas di wilayah Kalimantan Timur.
“Penanganan akan terus kami optimalkan agar angka kecelakaan dapat ditekan,” tegasnya. (SR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















