BONTANG, Pranala.co — Pertama kalinya dalam sejarah, Kota Bontang mencatatkan capaian hampir sempurna dalam program timbang balita serentak. Pada Mei 2025, sebanyak 99,94 persen balita berhasil ditimbang secara serentak di seluruh wilayah kota, mencetak rekor baru setelah bertahun-tahun hanya berada di angka 60 persen.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menyampaikan bahwa capaian ini menjadi tonggak penting dalam upaya memerangi stunting di kota industri tersebut.
“Ini bukan sekadar angka. Ini adalah langkah besar dalam mengatasi masalah stunting yang selama ini sulit ditangani karena minimnya data riil,” ungkap Neni, Senin (26/5/2025).
Lebih dari 10 ribu balita ditimbang secara serentak, melibatkan seluruh puskesmas, posyandu, kader kesehatan, serta dukungan masyarakat. Hasilnya cukup mencengangkan: 1.700 balita ditemukan mengalami masalah pertumbuhan, dan dari jumlah itu, 1.216 balita dikonfirmasi mengalami stunting — kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis.
“Dengan cakupan hampir 100 persen, kini kami memiliki data yang akurat dan bisa ditindaklanjuti secara konkret,” lanjutnya.
Data terbaru menunjukkan bahwa angka prevalensi stunting di Bontang kini turun menjadi 12 persen, jauh lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang berada di kisaran 21 hingga 27 persen.
Namun Pemkot Bontang tidak ingin berpuas diri. Dalam 56 hari ke depan, seluruh balita yang teridentifikasi stunting akan mendapatkan intervensi intensif, dengan target ambisius menurunkan angka stunting di bawah 2 persen.
Berbeda dari pendekatan sebelumnya, kali ini intervensi dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya berupa bantuan makanan bergizi seperti susu dan bubur kacang hijau, namun juga pendidikan gizi kepada orang tua dan pengasuh.
“Stunting bukan cuma soal makanan, tapi pola asuh, literasi gizi, dan lingkungan yang sehat,” tegas Neni.
Bahkan, program ini turut menyasar perbaikan rumah tidak layak huni, sebagai bagian dari menciptakan ekosistem sehat bagi anak-anak.
“Kalau rumahnya lembap dan gelap, anak bisa mudah sakit. Maka perbaikan rumah juga kami tangani,” jelasnya.
Guna mendukung seluruh program ini, Pemkot Bontang mengalokasikan anggaran sebesar Rp4 miliar. Dana tersebut akan dibagikan kepada puskesmas sesuai dengan jumlah balita stunting yang ada di wilayah masing-masing.
“Kami pastikan dana ini tepat sasaran dan dimanfaatkan maksimal untuk menyelamatkan generasi masa depan Bontang,” tutup Neni. [ZI]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami


















Comments 2