NANIK Sudaryati Deyang resmi ditunjuk sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), menggantikan Dadan Hindayana yang dicopot bersama jajaran pimpinan sebelumnya.
Pengumuman itu disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (2/6/2026).
Penunjukan Nanik datang pada saat BGN menghadapi tantangan besar untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap kualitas dan tata kelola program pangan nasional.
Pergantian pimpinan ini bukan tanpa alasan. Pemerintah menilai terjadi persoalan kedisiplinan dalam penerapan standar operasional prosedur (SOP), termasuk pengawasan mutu makanan yang menjadi bagian penting dari program pemerintah.
Nama Nanik sebenarnya bukan wajah baru di lingkungan BGN. Sebelum dipercaya menjadi kepala lembaga, ia menjabat sebagai Wakil Kepala BGN mendampingi Dadan Hindayana. Posisi itu diembannya sejak dilantik Presiden Prabowo pada 17 September 2025 saat reshuffle kabinet.
Kala itu, salah satu tugas besar yang berada di pundaknya adalah mempercepat pembangunan 1.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai wilayah, terutama daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Selama menjabat, Nanik dikenal aktif menindaklanjuti laporan penyimpangan di lapangan.
Ia beberapa kali menyoroti dugaan praktik mark-up harga bahan baku pangan yang dilakukan mitra dapur SPPG. Bahkan, ia tak segan mengambil tindakan tegas terhadap pengelola yang dianggap melanggar aturan.
“Ingat! Kepala SPPG, Pengawas Keuangan, Pengawas Gizi, jangan pernah mau mengikuti kemauan, apalagi malah bekerja sama dengan Mitra SPPG yang me-mark-up harga bahan baku pangan untuk Program MBG ini,” tegas Nanik saat kunjungan kerja di Solo, Februari 2026.
Sikap keras terhadap praktik curang itu membuat namanya dikenal sebagai salah satu figur yang cukup vokal dalam menjaga kualitas pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Mulai 2 Juni 2026, Nanik resmi memimpin BGN. Dalam struktur baru tersebut, ia akan didampingi dua wakil kepala, yakni Agustina Arumsari dan Mayjen TNI Trenggono. Keduanya menggantikan Lodewyk Pusung dan Sony Sonjaya yang sebelumnya menjabat posisi serupa.
Tugas yang menanti tidak ringan. Program MBG yang menjadi salah satu program prioritas pemerintahan Prabowo membutuhkan pengawasan ketat agar kualitas makanan, distribusi, dan penggunaan anggaran tetap berjalan sesuai tujuan.
Karier Nanik tidak hanya berkutat di sektor pemerintahan. Sebelum bergabung ke BGN, ia pernah menjabat sebagai Wakil I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) pada 2024. Ia juga dipercaya menjadi Komisaris Independen di PT Pertamina (Persero).
Di dunia politik, namanya sempat masuk dalam struktur Badan Pemenangan Nasional (BPN) pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno pada Pilpres 2019. Namun, perjalanan hidup Nanik jauh lebih panjang dari itu.
Tak banyak yang mengetahui bahwa perempuan yang kini memimpin lembaga strategis negara tersebut mengawali karier sebagai wartawan. Ia pernah bekerja di Tabloid Bangkit yang berada di bawah naungan Kompas Gramedia.
Dari ruang redaksi, kariernya terus berkembang. Ia kemudian memimpin Kelompok Media Peluang yang menerbitkan berbagai media, mulai dari majalah perempuan, kuliner, bisnis hingga politik.
Pengalaman panjang di dunia pers membentuk karakter Nanik yang dikenal kritis terhadap berbagai isu sosial, ekonomi, dan politik.
Ia juga aktif dalam kegiatan sosial melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN), yang fokus pada pemberdayaan anak-anak, perempuan, dan kelompok masyarakat miskin. [RIL]
















