Pranala.co, BONTANG - Minyak goreng menjadi bahan pokok di dapur hampir setiap rumah. Dari menggoreng ikan hingga camilan sore hari. Namun, kebiasaan menggunakan minyak goreng berulang kali masih sering dilakukan, terutama demi alasan penghematan. Di balik itu, ada risiko kesehatan yang kerap diabaikan.
Sejumlah sumber kesehatan dan gizi mengingatkan, pemakaian minyak goreng tidak bisa dilakukan tanpa batas. Ada aturan aman yang sebaiknya dipatuhi.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama para ahli gizi menyebut, minyak goreng idealnya hanya digunakan satu hingga tiga kali pemakaian. Lebih dari itu, kualitas minyak menurun drastis.
Minyak yang dipakai berulang akan mengalami oksidasi. Proses ini memicu terbentuknya senyawa berbahaya, seperti akrolein, radikal bebas, dan asam lemak trans. Zat-zat tersebut diketahui dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, gangguan hati, hingga kanker jika dikonsumsi dalam jangka panjang.
Penurunan kualitas minyak tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor yang memengaruhinya.
Pertama, jenis minyak. Minyak kelapa sawit relatif lebih stabil terhadap panas dibandingkan minyak tak jenuh, seperti minyak zaitun atau minyak kedelai. Meski demikian, minyak sawit tetap tidak disarankan digunakan berulang kali tanpa batas.
Kedua, suhu penggorengan. Penggorengan dengan suhu tinggi, terutama metode deep frying, mempercepat kerusakan struktur minyak. Pada kondisi ini, minyak sebaiknya hanya digunakan sekali.
Ketiga, jenis makanan yang digoreng. Makanan bertepung atau berbumbu tebal meninggalkan banyak sisa. Sisa tersebut mudah terbakar dan mempercepat degradasi minyak.
Tanda-tanda minyak sudah tidak layak pakai juga mudah dikenali. Warna berubah menjadi gelap. Aroma menjadi tengik. Minyak lebih cepat berasap saat dipanaskan. Jika ciri-ciri ini muncul, minyak sebaiknya segera dibuang.
Untuk mengurangi risiko, masyarakat diimbau menerapkan penggunaan minyak yang lebih aman. Minyak bekas sebaiknya disaring setelah dipakai agar sisa makanan tidak ikut terbakar. Penyimpanan juga perlu diperhatikan, yakni di wadah tertutup dan tempat sejuk.
Ahli gizi juga menyarankan agar minyak baru tidak dicampur dengan minyak bekas. Selain itu, metode memasak alternatif seperti mengukus, merebus, atau memanggang bisa menjadi pilihan untuk mengurangi konsumsi minyak goreng.
Penggunaan minyak goreng berulang memang terlihat menghemat. Namun, dampaknya terhadap kesehatan tidak bisa disepelekan. Batas aman pemakaian minyak adalah maksimal tiga kali, tergantung kondisi dan cara penggunaannya.
Bijak di dapur hari ini adalah investasi kesehatan untuk masa depan. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















