BONTANG – Di tengah pesona alamnya, Kota Bontang memiliki satu primadona yang memikat hati masyarakat dan wisatawan: burung kuntul perak. Burung langka ini bukan hanya menjadi maskot kota, tetapi juga inspirasi motif kain batik khas Bontang.
Mengenal Kuntul Perak
Burung kuntul perak, yang memiliki nama ilmiah Mesophoyx intermedia, merupakan sejenis bangau dari genus Mesophyx. Beberapa ahli taksonomi juga menggolongkannya ke dalam genus Egretta atau Ardea, sehingga burung ini dikenal dengan nama Egretta intermedia atau Ardea intermedia. Dalam bahasa Inggris, burung ini disebut yellow-billed egret, intermediate egret, median egret, dan smaller egret.
Habitat kuntul perak mencakup air tawar dan air asin, termasuk danau, rawa, muara, hutan mangrove, sawah, sungai, dan garis pantai. Burung ini tersebar di wilayah Afrika, India, Asia Timur, Australia, dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di Indonesia, kuntul perak dapat ditemukan di Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dan terutama di Kalimantan.
Ciri Khas Kuntul Perak
Kuntul perak berukuran sedang dengan panjang tubuh sekitar 56—72 cm dan lebar sayap 105—115 cm. Berat tubuhnya sekitar 400 gram. Warna burung ini didominasi putih atau krem dengan paruh kuning berujung cokelat, mata kuning, dan kaki berwarna gelap. Ciri khas lain dari burung ini adalah paruh yang agak pendek dan leher berbentuk huruf “S” tanpa simpul.
Kuntul perak dapat hidup sendiri atau dalam koloni kecil, berburu katak, ikan, serangga air, belalang, dan udang-udangan di perairan pantai dangkal atau ladang yang tergenang.
Mereka biasanya bersarang membentuk koloni dengan sesamanya atau burung air lain, menggunakan ranting kayu yang disusun di dahan pohon, semak, atau belukar dekat air. Telur kuntul perak berwarna hijau biru pucat dan burung ini biasanya bertelur 3-4 butir dalam sekali bertelur.

Kuntul Perak sebagai Maskot Kota Bontang
Dahulu, burung kuntul perak banyak berkembang biak di pesisir hutan bakau Kota Bontang. Namun, seiring waktu, populasinya menurun hingga sulit ditemui. Meskipun begitu, kuntul perak masih masuk kategori Least Concern atau spesies risiko rendah dalam IUCN Red List.
Melalui rangkaian pertemuan, diskusi, dan jajak pendapat di enam kelurahan, Kota Bontang menetapkan burung kuntul perak sebagai maskot kota. Keputusan ini tertuang dalam SK Wali Kota Bontang Nomor 559 tahun 2004. Dengan penetapan ini, diharapkan pelestarian kuntul perak di Kota Bontang akan terus dilakukan.
Tak hanya sebagai maskot, kuntul perak juga menginspirasi pengrajin batik untuk menciptakan motif batik yang indah. Motif ini melambangkan keindahan burung kuntul sebagai ikon Kota Bontang serta mencerminkan masyarakat Bontang yang pekerja keras, ramah, ceria, dan berpikiran terbuka.
Pelestarian Burung Air di Semenanjung Kampar
Dalam kegiatan Asian Waterbird Census (AWC) atau Sensus Burung Air Asia 2022 di Semenanjung Kampar, ditemukan 176 burung air dari 12 spesies di sekitar Sungai Kampar, Sungai Kutup, dan Pulau Padang. Jumlah ini meningkat dari tahun 2021 yang mencatat 163 burung air dari 10 spesies.
Dengan keberadaan kuntul perak sebagai maskot dan inspirasi budaya, Kota Bontang tidak hanya menonjolkan keindahan alamnya, tetapi juga memperlihatkan komitmen dalam pelestarian satwa langka yang menjadi bagian dari identitas kota. (*)
*) Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami

















Comments 1