ITU mungkin kali terakhir kami bertemu. Di sebuah kafe di Jalan Awang Long, Bontang. Bukan cuma berdua. Kawan-kawan lain pendiri Klik Bontang juga hadir di sana.
Tak ada tanda apapun jika hari itu akan sama seperti hari-hari sebelumnya. Ia duduk dengan wajah semringah. Menyambut kedatangan saya seorang diri.
Lima menit kami bersua. Tidak lama. Sebelum kawan-kawan lain datang. Ia makin bugar. Itu sebabnya saya bertanya, bagaimana jika ia tua nanti. Setidaknya jika di umur 70 tahun. “Apa Pembina (panggilan kami kepada Taqbir Ali, Red.) masih punya wajah tampan seperti ini?”
Tanpa dijelaskan, ia paham bagaimana tua dalam versi saya. Itu sebabnya ia tertawa mendengar pertanyaan itu.
Ia membenarkan posisi duduknya. Memegang pundak kanan saya perlahan. Laiknya seorang kawan. Pula seperti kakak kepada adik. Ia bilang, tua akan datang kepada siapa saja. Serupa kematian. Tapi saya merasa tua yang dimaksudnya begitu jauh di ujung sana. Saya bersyukur itu belum dijalani. Setidaknya untuk saat ini.
Tua cenderung derita, bagi saya. Ia paham itu. Ada tubuh yang sakit. Lemah. Kesendirian. Namun masih punya hasrat membangkang. Atau ketimpangan ego membandingkan diri sendiri sebelum dan setelah menjadi tua.
Saya kadang melihat mereka yang tua dengan kebahagiaan tiada tara. Anak-anak sukses merantau di kota seberang. Pulang kampung setiap Lebaran. Nama termashyur dikenang orang. Liburan ke manapun dengan pelayanan kelas terhormat.
Lalu apa yang diinginkan jika saya tua nanti? Ia bertanya. Kali ini dengan tatapan serius. Saya tidak ingin bermimpi terlalu muluk. Hanya ingin tua tanpa amarah. Mungkin seperti dirinya.
Saya ingin menjadi manusia tua yang menerima ketuaan tanpa menyesali apa yang telah dilakukan. Atau apa yang telah orang lain lakukan kepada saya sebelum menjadi tua di titik itu.
Saya hanya ingin berkata; kelak ketika sampai pada ketuaan itu, saya harus bebas dari amarah dengan menjadi orang yang paling banyak memberikan rasa sayang kepada siapapun.
Jika saya tua diberi cobaan berupa penyakit, saya harus kuat untuk pasrah. Jika saya tua hidup sendiri, maka saya harus ikhlas dan tidak mencaci maki kebahagiaan mereka yang hidupnya lebih ramai dibanding saya.
“Saya ingin seperti Pembina (panggilan kami kepada Taqbir Ali, Red.) Sederhana bukan?” Ia tertawa lepas.
Dalam hati kecil, ia ingin kami –pendiri Klik Bontang– pula demikian; menjadi manusia tua yang lega. Kelak. Meski tak lagi mampu membedakan ruang dan waktu.
Ia ingin kami tak menyesali apapun karena telah mengambil semua kesempatan untuk memilih sepanjang hidup.
Ia ingin kami menjadi manusia tua yang tidak mencari pengganti untuk sesuatu yang tidak pernah dimiliki.
Ia ingin kami menjadi manusia tua yang menyambut dan memeluk. Bukan manusia tua yang mengusir dan berlari dari sisa dunia yang masih dimiliki.
Ia ingin kami tua tanpa menanti. Ia ingin kami tua dalam kesadaran bahwa segalanya telah sampai di tempat yang semestinya.
Ia ingin kami menua bersama. Atau bersama siapa saja yang baik hatinya. Penuh kasih. Meski ia pula paham, saya tak sepenuhnya percaya pada kebersamaan.
Ia ingin kami tua tanpa merasa perlu mencaci maki, karena tidak merasa tak cukup bahagia selama muda, karena kerap menutupi kenyataan bahwa hidup bukanlah surga.
Jika bisa meminta –tentu saja- ia ingin kami menikmati ketuaan tidak dengan kesendirian. Tentu bersama keluarga. Bersama istri. dan anak-anaknya yang hebat.
Kepadanya saya katakan, ingin menikmati hari-hari terakhir dengan banyak hal; mendengar music, menonton film, membaca buku.
Mungkin pula mengobrol tentang kelucuan-kelucuan yang fana. Sesekali tertawa. Membuka kembali album foto masa muda. Sembari menyeruput kopi pahit di sofa sederhana yang menyangga pinggang karena mengilu dan punggung yang telah melengkung.
Sore ini, terik matahari masih enggan beranjak di Bontang. Tapi di balik sengatannya yang banal, ada rembulan yang begitu bersinar menunggu di ufuk Timur.
Saya menoleh untuk terakhir kali. Tak ada sepatah kata apapun yang diucapkan. Terlebih kalimat perpisahan. Saya harus kembali ke Samarinda. Segera. Panggilan dari pemilik Rumah Sakit Haji Darjad itu tidak bisa diabaikan.
Taqbir Ali masih duduk di posisi yang sama. Di sana. Kali ini tanpa senyum semringah. Ia memandang saya kali terakhir dengan kesenduan. Ia paham. Kali ini semua tak sekadar harus merelakan dan mengikhlaskan. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami



















