Pranala.co, SANGATTA – Aktivitas penerbangan di Bandara Uyang Lahai, Kecamatan Kongbeng, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) belum berjalan optimal. Kondisi landasan pacu yang belum dilapisi aspal maupun beton membuat operasional bandara sangat bergantung pada cuaca.
Setiap kali hujan turun, permukaan landasan yang masih berupa tanah menjadi licin dan berisiko. Pesawat tidak dapat melakukan pendaratan ataupun lepas landas demi alasan keselamatan. Akibatnya, akses transportasi udara bagi masyarakat pedalaman Kutai Timur kerap terhambat.
Camat Kongbeng, Petrus Ivung, mengatakan persoalan landasan pacu telah berlangsung cukup lama. Ia menilai, perbaikan infrastruktur menjadi kebutuhan mendesak agar fungsi bandara dapat berjalan maksimal.
“Kalau landasan ini sudah dicor, saya yakin tidak ada kendala. Misalnya gerimis pun pesawat tetap bisa masuk,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Selasa (24/2/2026).
Menurut Petrus, keberadaan bandara sangat penting untuk menunjang mobilitas warga dan mendukung aktivitas ekonomi di wilayah pedalaman, seperti Kecamatan Kongbeng, Muara Wahau, dan Telen.
Selama penerbangan belum stabil, masyarakat masih mengandalkan jalur darat dengan waktu tempuh yang relatif lebih lama dan tantangan medan yang tidak ringan.
Bandara Uyang Lahai memiliki panjang lahan sekira 2.300 meter. Namun hingga kini, baru sekitar 820 meter landasan yang terbangun dan belum dilapisi aspal atau beton.
Kondisi tersebut membatasi jenis pesawat yang dapat beroperasi. Saat ini, hanya pesawat kecil berkapasitas delapan hingga sembilan penumpang yang bisa mendarat. Sebelumnya, bandara ini pernah melayani pesawat dengan kapasitas hingga 18 penumpang.
Selain persoalan fisik landasan, penyelesaian Register Bandar Udara (RBU) juga masih menjadi pekerjaan rumah. Dokumen tersebut merupakan syarat administrasi agar bandara perintis dapat terintegrasi dalam sistem navigasi udara nasional.
Pemerintah kecamatan, kata Petrus, telah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten maupun Kementerian Perhubungan guna mendorong percepatan pembangunan dan penyelesaian administrasi.
Bandara Uyang Lahai telah berdiri sejak 1976 dan diresmikan pada 19 September 2013. Secara geografis, bandara ini memiliki posisi strategis sebagai penghubung antarwilayah di pedalaman Kutai Timur.
Dengan perbaikan landasan dan kelengkapan administrasi, bandara tersebut dinilai berpotensi mempercepat konektivitas, memperlancar distribusi logistik, serta membuka peluang pertumbuhan ekonomi di kawasan yang selama ini relatif terisolasi. (HAF)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















