Pranala.co, SAMARINDA – Kinerja sektor pertambangan dan penggalian di Kalimantan Timur (Kaltim) kembali menghadapi tekanan. Pada kuartal III 2025, sektor yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah tersebut tercatat mengalami kontraksi sebesar 0,22 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Penurunan ini kian terasa setelah produksi batu bara anjlok cukup dalam.
Data Bank Indonesia menunjukkan, produksi batu bara Kaltim merosot hingga 16,60 persen (yoy). Angka ini lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, sekaligus menjadi sinyal melemahnya aktivitas produksi di tengah berbagai tantangan eksternal dan domestik.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kalimantan Timur, Budi Widihartanto, menjelaskan bahwa faktor cuaca menjadi pemicu utama penurunan tersebut. Intensitas curah hujan yang meningkat signifikan sepanjang periode laporan dinilai mengganggu operasional pertambangan, khususnya aktivitas penambangan terbuka.
“Curah hujan pada kuartal III 2025 jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kondisi ini berdampak langsung pada kelancaran produksi,” ujar Budi dalam keterangan resmi yang diterima, Senin (26/1/2026).
Selain faktor cuaca, tekanan juga datang dari sisi permintaan global. Hingga kuartal III 2025, permintaan batu bara dari negara-negara mitra dagang utama belum sepenuhnya pulih. Hal ini tercermin dari volume ekspor batu bara yang masih terkontraksi sebesar 6,75 persen (yoy).
Budi menyebutkan, Tiongkok sebagai salah satu pasar utama batu bara Kaltim masih mengandalkan produksi domestik dalam jumlah besar. Meski demikian, terdapat sinyal positif dari negeri tersebut. Produksi batu bara domestik Tiongkok tercatat turun 2,40 persen (yoy) pada periode yang sama, yang berpotensi membuka ruang pemulihan permintaan ke depan.
Tekanan di sektor pertambangan tidak berhenti pada sisi produksi dan ekspor. Dampaknya turut merambat ke sektor pembiayaan. Kredit perbankan untuk sektor pertambangan di Kalimantan Timur melanjutkan tren negatif dengan kontraksi sebesar 11,90 persen (yoy) pada kuartal laporan. Kondisi ini mencerminkan sikap kehati-hatian perbankan di tengah ketidakpastian kinerja sektor tersebut.
Di tengah tekanan yang berlangsung, Kalimantan Timur masih mempertahankan perannya sebagai kontributor ekonomi terbesar di Pulau Kalimantan. Pada kuartal III 2025, ekonomi Kaltim tumbuh sebesar 4,26 persen (yoy), meskipun melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 4,69 persen (yoy).
Perlambatan tersebut sejalan dengan tren ekonomi nasional yang tumbuh 5,04 persen (yoy), serta pertumbuhan ekonomi regional Kalimantan yang tercatat sebesar 4,70 persen (yoy). Dengan pangsa ekonomi mencapai 46,61 persen, Kaltim tetap menjadi motor utama perekonomian Borneo, tertinggi di antara seluruh provinsi di Kalimantan.
Meski demikian, Bank Indonesia menilai tantangan struktural di sektor pertambangan menjadi pengingat pentingnya upaya diversifikasi ekonomi. Ketergantungan tinggi terhadap komoditas batu bara membuat perekonomian daerah rentan terhadap fluktuasi cuaca dan dinamika permintaan global. Ke depan, penguatan sektor-sektor nonpertambangan dinilai krusial untuk menjaga ketahanan ekonomi Kalimantan Timur secara berkelanjutan. (RE)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















