Pranala.co, BONTANG – Genap berusia 26 tahun, Kota Bontang terus menatap masa depan dengan semangat pembaruan. Meski berada di tengah tekanan fiskal, Pemerintah Kota Bontang memastikan pembangunan tetap berjalan, satu demi satu.
Wali Kota Bontang, Neni Moernaeni, menegaskan komitmennya untuk terus membawa perubahan positif bagi kota berjuluk Kota Taman itu.
“Target ke depan tentu lembaran perubahan. Menuju Bontang yang lebih baik. Walaupun dalam tekanan fiskal, insyaallah pembangunan tetap berjalan dan kesejahteraan masyarakat terus meningkat,” ujar Neni, Selasa (14/10).
Masalah banjir masih menjadi pekerjaan rumah utama Pemkot Bontang. Neni menegaskan, penanganan banjir akan terus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan.
“Kita tahu, persoalan banjir tidak bisa selesai hanya dengan satu program. Perlu langkah-langkah bertahap dan konsisten,” tegasnya.
Berbagai proyek infrastruktur pengendalian banjir telah disiapkan. Pemkot juga melibatkan partisipasi masyarakat agar solusi yang dibangun benar-benar menyentuh kebutuhan warga.
Fokus Peningkatan SDM dan Pendidikan
Selain infrastruktur, sektor pendidikan tetap menjadi prioritas. Pemerintah menyalurkan berbagai bantuan untuk pelajar, mulai dari seragam, tas, hingga sepatu sekolah.
Tak berhenti di sana, program beasiswa Uang Kuliah Tunggal (UKT) juga diberikan bagi mahasiswa berprestasi maupun yang kurang mampu.
“Peningkatan sumber daya manusia adalah investasi jangka panjang. Masyarakat yang cerdas dan terampil akan mempercepat pembangunan,” jelas Neni.
Untuk itu, Pemkot Bontang juga menggelar berbagai pelatihan dan sertifikasi keahlian bagi tenaga kerja lokal agar siap bersaing di dunia industri.
Gerakan Gesit untuk Kota yang Lestari
Dalam bidang lingkungan, Neni menggagas Gerakan Gesit, sebuah inisiatif kolektif untuk menjaga kebersihan kota. Program ini mengajak warga menanam pohon, mengurangi plastik, dan peduli pada lingkungan sekitar.
“Lingkungan yang bersih dan lestari bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi tanggung jawab kita semua,” ujarnya.
Menanggapi penurunan dana Transfer ke Daerah (TKD), Neni memastikan pembangunan tidak akan berhenti.
“Visi dan misi pemerintah itu untuk lima tahun. Tidak mungkin semua diselesaikan dalam satu tahun. Karena itu, kami jalankan bertahap sesuai kemampuan fiskal daerah,” ungkapnya.
Meskipun bergerak dalam keterbatasan, Neni tetap optimistis. Ia percaya, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha akan membuat Bontang semakin berdaya saing.
“Pembangunan bukan sekadar membangun gedung, tapi membangun harapan. Selama kita bergerak bersama, Bontang akan terus berbenah menuju masa depan yang lebih cerah,” pungkasnya. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami


















