Bontang, PRANALA.CO – Di balik kasus penyalahgunaan narkoba yang terus menghantui Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kalti) tersimpan fakta mencengangkan: banyak pelaku yang terjerumus bukan karena lingkungan pergaulan. Melainkan karena luka emosional yang bersumber dari dalam rumah mereka sendiri.
Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Bontang, Lulyana Ramdhani, menekankan bahwa konflik keluarga menjadi pemicu yang sering luput dari perhatian publik. Dalam banyak temuan BNN, pelanggaran terhadap hukum narkotika bermula dari ketidakstabilan psikologis akibat persoalan internal yang tak terselesaikan.
“Bukan soal narkobanya dulu. Banyak kasus bermula dari rumah yang tidak sehat secara emosional. Komunikasi buruk, konflik tak terselesaikan, dan minimnya perhatian jadi celah yang mudah dimanfaatkan pengedar,” ujar Lulyana, Sabtu (12/4/2025), saat menghadiri acara di Ballroom Hotel Tiara Surya, Jalan Bhayangkara, Bontang.
Menurut Lulyana, upaya pencegahan narkoba kini tak lagi cukup hanya dengan razia atau kampanye bahaya zat adiktif. Pendekatan berbasis kesehatan mental dan pemberdayaan keluarga kini menjadi kunci baru dalam strategi pemberantasan.
“Pencegahan harus dimulai dari penyembuhan. Seseorang yang utuh secara emosional tidak mudah terpengaruh. Itulah kenapa kami dorong program yang menyentuh aspek psikologis dan keluarga,” jelasnya.
Salah satu terobosan yang digagas BNN Bontang adalah program Purpose (Perpustakaan dan Pencegahan Sosial), sebuah inisiatif yang menggabungkan literasi, edukasi anti-narkoba, dan pemulihan psikologis. Program ini akan digelar rutin setiap bulan di Perpustakaan Kota Bontang dan terbuka gratis untuk umum.
“Di Purpose, kita tidak hanya bicara soal narkoba, tapi juga soal bagaimana menjadi orang tua yang hadir, bagaimana menyembuhkan diri, dan bagaimana menciptakan ruang aman di rumah. Karena tidak semua luka harus disembuhkan dengan obat, sebagian cukup dengan pemahaman dan pelukan,” kata Kepala BNN Kota Bontang, Lulyana.
BNN juga terus menjalin kerja sama lintas sektor, mulai dari Polres, DPRD, hingga Lapas, untuk menutup jalur peredaran narkoba baik dari luar maupun dalam kota.
Lulyana menegaskan bahwa perang melawan narkoba adalah tanggung jawab bersama. Keluarga memiliki peran vital sebagai benteng pertama dalam membentengi anak-anak dan remaja dari godaan zat berbahaya.
“Jangan biarkan narkoba masuk melalui celah-celah yang kita anggap kecil—seperti sikap cuek, kata-kata kasar, atau rumah yang dingin tanpa kasih sayang. Karena itulah awal dari kehancuran yang sering tak kita sadari,” imbau dia. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami



















