Pranala.co, BONTANG — Rumah tangga yang dipenuhi konflik dan minim kasih sayang bisa menjadi pintu masuk bagi anak dan remaja terjerumus ke dunia narkoba.
Hal itu diingatkan oleh Koordinator Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Cabang Bontang, Mochammad Ilhamsyah Metharani, M.Psi, yang menilai bahwa ketidakharmonisan keluarga sering membuat anak mencari “pelarian” instan — salah satunya lewat narkoba.
“Ketika rumah tidak lagi memberi rasa aman, anak akan mencari pengganti di luar. Bisa teman, bisa lingkungan yang salah. Dan dari situlah banyak kasus penyalahgunaan narkoba berawal,” ujar Ilhamsyah, Selasa (4/11/2025).
Menurutnya, masa remaja adalah fase paling rentan. Di usia itu, rasa ingin tahu besar dan pengaruh teman sebaya sangat kuat.
“Remaja ingin mencoba banyak hal. Kalau tidak diarahkan dengan baik, mereka mudah terseret,” katanya.
Ilhamsyah menegaskan, bahkan pemakaian narkoba sekadar coba-coba sudah berisiko besar. Zat adiktif dapat merusak sistem saraf, memicu gangguan psikologis, menghancurkan ekonomi keluarga, dan menimbulkan masalah sosial.
“Dampaknya bukan cuma ke pengguna, tapi juga orang-orang di sekitarnya,” tegasnya.
Ilhamsyah menilai peran orangtua adalah kunci utama dalam mencegah anak terjerumus narkoba. Ia meminta agar orangtua menjadi sosok yang mengayomi, membimbing, dan memberi rasa aman.
“Masalah dalam rumah tangga itu wajar, tapi jangan sampai anak jadi pelampiasan. Anak harus tetap merasa dicintai dan punya tempat bercerita,” ujarnya.
Komunikasi terbuka disebutnya sebagai langkah sederhana tapi sangat penting. Dengarkan anak tanpa menghakimi. Hadapi perubahan sikap mereka dengan sabar, bukan emosi.
“Remaja itu butuh ruang untuk didengar. Ajak bicara dari hati ke hati. Dengan begitu, mereka tahu ke mana harus pulang saat punya masalah,” tambahnya.
Selain itu, orangtua juga perlu memberi kepercayaan bertahap. Misalnya dengan mendorong anak aktif di kegiatan sekolah, organisasi, atau komunitas sosial yang positif.
“Dari situ mereka belajar tanggung jawab dan menyelesaikan masalah dengan cara sehat,” ujarnya.
Ilhamsyah juga memberi pesan bagi orangtua yang sudah mendapati anaknya menggunakan narkoba. Ia mengingatkan agar tidak reaktif atau memarahi berlebihan.
“Tegaskan bahwa perbuatannya salah, tapi tetap peluk dan damping anak. Akui juga bahwa orangtua tidak sempurna. Hadapi bersama sebagai keluarga,” sebutnya.
Ia menyarankan agar keluarga tidak ragu mencari bantuan profesional atau melapor ke lembaga resmi seperti BNN. Pendampingan psikologis dan pengawasan yang penuh kasih akan membantu proses pemulihan.
“Yang penting, jangan biarkan anak merasa dikucilkan. Jauhkan dari lingkungan berisiko, tapi tetap beri ruang dan kasih sayang,” tutup Ilhamsyah. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami


















