Pranala.co, SAMARINDA — Sektor pertambangan Kalimantan Timur (Kaltim) sedang tidak baik-baik saja. Untuk pertama kalinya sejak awal 2021, pertambangan di Bumi Etam mengalami kontraksi. Penyebab utamanya: curah hujan yang tinggi.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kalimantan Timur, Budi Widihartanto, mengungkapkan bahwa lapangan usaha pertambangan mencatat penurunan 0,63% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I/2025.
“Produksi batu bara turun karena hujan yang terus-menerus. Aktivitas tambang terganggu,” kata Budi dalam keterangan resminya.
Data BI mencatat, produksi batu bara Kaltim dari Januari hingga Maret 2025 hanya mencapai 77 juta ton. Jumlah ini turun 18,9% dibanding periode yang sama tahun lalu, yang mencatat 95 juta ton.
Penurunan ini bukan cuma memukul produksi, tapi juga berdampak langsung pada ekspor.
Ekspor batu bara Kaltim terkontraksi 17,90% yoy, seiring melemahnya permintaan global. Situasi ini diperparah dengan turunnya penyaluran kredit pertambangan, yang tercatat menyusut 8,16% yoy.
Sektor yang selama ini jadi andalan perekonomian Kaltim pun harus berjibaku dengan tekanan dari dalam dan luar.
“Ini menjadi indikator tekanan yang cukup serius bagi industri tambang di Kaltim,” ujar Budi.
Meski menghadapi badai, Budi tetap optimistis. Ia memprediksi sektor pertambangan akan mulai pulih pada kuartal mendatang, dengan catatan cuaca membaik dan permintaan global kembali stabil.
“Kami terus memantau. Karena sektor ini masih memegang peran penting bagi ekonomi daerah,” katanya.
Sebagai provinsi penghasil batu bara terbesar di Indonesia, perlambatan sektor tambang jelas memberi dampak besar terhadap perekonomian Kaltim. Bank Indonesia pun menekankan pentingnya sinergi antarinstansi untuk menjaga stabilitas sektor ini.
Produksi yang melemah, ekspor yang lesu, dan kredit yang menyusut menjadi sinyal penting. Kalimantan Timur butuh strategi baru untuk menjaga ketahanan ekonominya, agar tak sepenuhnya bergantung pada cuaca dan pasar global.


















