Pranala.co, BONTANG – Dua pekan menjelang Hari Raya Idulfitri, harga sejumlah bahan pangan di Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim), mulai mengalami kenaikan. Salah satu komoditas yang paling mencolok adalah cabai, yang kini dijual hingga Rp90 ribu per kilogram di pasar tradisional.
Kenaikan harga tersebut diduga dipicu oleh faktor cuaca yang tidak menentu sehingga produksi cabai di tingkat petani menurun. Dampaknya langsung terasa pada pasokan di pasar yang semakin terbatas.
Kondisi ini terungkap saat tim gabungan melakukan inspeksi mendadak (sidak) di sejumlah titik distribusi pangan di Bontang, Kamis (5/3/2026).
Tim sidak terdiri dari Badan Pangan Nasional (Bapanas), Satuan Tugas Pangan Polda Kalimantan Timur, Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (DKUMPP) Kota Bontang, serta Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Bontang.
Sidak dilakukan di Pasar Taman Rawa Indah, sejumlah pusat perbelanjaan modern, petani cabai, hingga distributor beras dan telur.
Ketua Kelompok Kerja Stabilisasi Pasokan Pangan Badan Pangan Nasional, Yudhi Harsatriadi Sandyatma, menjelaskan bahwa kenaikan harga cabai sudah terjadi sejak dari tingkat petani.
“Harga cabai merah di tingkat petani sudah sekitar Rp60 ribu per kilogram. Ketika sampai di pasar, harganya bisa mencapai Rp90 ribu per kilogram,” ujarnya.
Menurut Yudhi, tingginya curah hujan dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan sebagian petani mengalami gagal panen. Kondisi tersebut membuat produksi cabai menurun secara signifikan.
Selain itu, kebutuhan cabai di Bontang tidak sepenuhnya dipasok dari petani lokal. Sebagian besar komoditas tersebut juga didatangkan dari daerah lain seperti Samarinda dan Kabupaten Banjar.
“Karena hujan, distribusi dari daerah penghasil juga terhambat. Akibatnya pasokan di pasar berkurang dan harga ikut naik,” jelasnya.
Selain cabai, tim sidak juga menemukan kenaikan harga pada beberapa komoditas lain seperti beras dan telur ayam. Namun, kenaikannya dinilai tidak setinggi cabai.
Yudhi menjelaskan, kenaikan harga tersebut lebih dipengaruhi oleh meningkatnya biaya distribusi dari daerah pemasok.
Sebagian besar pasokan beras yang masuk ke Bontang berasal dari wilayah Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) dan Kabupaten Bone.
“Kami juga akan menelusuri apakah harga sudah tinggi dari perusahaan atau penggilingan di daerah asal,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Yudhi mengingatkan para pedagang agar tidak memanfaatkan momentum menjelang Lebaran untuk menaikkan harga secara tidak wajar.
Pemerintah, kata dia, akan terus melakukan pemantauan terhadap stabilitas harga dan pasokan pangan guna memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Daftar Harga Pangan di Pasar Taman Rawa Indah
(Berdasarkan pemantauan 5 Maret 2026)
- Beras premium: Rp16.500 – Rp17.000 per kilogram
- Beras lokal: Rp15.000 per kilogram
- Cabai rawit: Rp90.000 per kilogram
- Cabai keriting: Rp55.000 per kilogram
- Cabai merah besar: Rp60.000 per kilogram
- Bawang merah: Rp45.000 per kilogram
- Bawang putih: Rp43.000 per kilogram
- Daging sapi: Rp160.000 per kilogram
- Daging ayam: Rp34.375 per kilogram
- Telur ayam: Rp40.625 per kilogram
- Gula curah: Rp18.000 per kilogram
- Minyak goreng kemasan: Rp21.000 per liter
- Minyak goreng curah: Rp19.000 per liter
- Ikan kembung, tongkol, dan bandeng: sekitar Rp35.000 per kilogram
Pemkot Bontang bersama instansi terkait akan terus memantau perkembangan harga pangan di Bontang, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri, untuk menjaga stabilitas pasokan dan melindungi daya beli masyarakat. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















