SAMARINDA – Penemuan bangkai seekor pesut mahakam jantan, spesies mamalia air tawar yang dilindungi, di Sungai Mahakam, Samarinda masih menjadi teka-teki yang sedang dipecahkan melalui proses autopsi intensif.
Danielle Kreb, seorang peneliti dari Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) di Samarinda, mengungkapkan bahwa tubuh pesut yang ditemukan belum menunjukkan tanda-tanda pembusukan, mengindikasikan kematiannya baru beberapa jam sebelum ditemukan.
“Ini merupakan pesut keempat yang mati dalam tahun 2024. Kematian ini sangat penting untuk diteliti karena belum jelas penyebab pastinya,” kata Danielle pada hari Rabu.
Bangkai pesut telah dibawa ke laboratorium perikanan di Universitas Mulawarman (Unmul) untuk nekropsi mendalam guna mengungkap penyebab kematian ini.
“Kami perlu memahami apa yang menyebabkan kematian pesut ini agar langkah-langkah perlindungan yang tepat dapat diambil,” tambah Danielle.
Pesut mahakam, dengan populasi tersisa sekitar 67 ekor di sepanjang Sungai Mahakam, diklasifikasikan sebagai spesies yang memerlukan perlindungan ekstra.
Suryawati Halim, Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Tenggarong Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim, menekankan pentingnya investigasi menyeluruh terhadap kematian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mungkin menyebabkan kematiannya.
“Ini bukan kasus pertama. Kematian pesut sebelumnya di Kota Bangun dan Tenggarong juga harus ditangani dengan serius,” ujar Suryawati.
Dengan adanya investigasi yang mendalam, diharapkan penyebab kematian pesut ini dapat diungkap dan langkah-langkah pencegahan yang sesuai dapat segera diimplementasikan untuk melindungi kelestarian spesies ini. (*)
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News



















