DI TENGAH tingginya ketergantungan pasokan pangan dari luar daerah, Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim) mulai menata ulang strategi. Arah kebijakan kini difokuskan pada satu hal mendasar: memperkuat produksi pangan dari dalam wilayah sendiri.
Kawasan Gunung Binjai, Balikpapan Timur, menjadi titik tumpu. Di lokasi inilah, pemerintah mendorong pengembangan lahan pertanian hingga mencapai sekitar 50 hektare dalam beberapa tahun ke depan.
Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, menyebut langkah ini sebagai bagian dari upaya jangka panjang membangun ketahanan pangan daerah.
“Perluasan lahan menjadi langkah penting untuk memperkuat produksi pangan lokal,” ujarnya, Sabtu (11/4/2026).
Selama ini, sekira 80 persen kebutuhan pangan Balikpapan masih dipasok dari luar daerah. Kondisi tersebut membuat kota ini rentan terhadap gangguan distribusi maupun fluktuasi harga.
Situasi itulah yang mendorong pemerintah untuk memperkuat sektor hulu pertanian. Tidak hanya mengoptimalkan lahan yang sudah ada, tetapi juga membuka area baru yang dinilai potensial.
Gunung Binjai menjadi salah satu kawasan yang dinilai memiliki prospek. Dalam beberapa waktu terakhir, luas lahan pertanian di kawasan tersebut meningkat dari sekitar 26 hektare menjadi 40 hektare.
Capaian ini menjadi sinyal awal bahwa pengembangan sektor pertanian lokal mulai bergerak ke arah yang lebih konkret.
Pengembangan lahan tidak dilakukan tanpa arah. Pemerintah menargetkan peningkatan produksi gabah sebagai komoditas utama penopang kebutuhan pangan.
Menurut Bagus, hasil dari pencetakan sawah baru diharapkan mampu menghasilkan gabah kering yang dapat mendukung ketersediaan beras di Balikpapan.
“Ini bagian dari upaya memperkuat pasokan pangan dari dalam daerah,” katanya.
Berdasarkan hasil pemetaan, masih terdapat potensi tambahan lahan sekitar 10 hektare yang bisa dikembangkan di kawasan tersebut. Dengan demikian, target total 50 hektare dinilai realistis untuk dicapai secara bertahap.
Namun, pemerintah menyadari bahwa perluasan lahan saja tidak cukup. Infrastruktur pendukung menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan program ini.
Sejak 2025, Pemkot Balikpapan telah mulai membenahi sektor pertanian dari sisi infrastruktur. Sejumlah program dijalankan, seperti pembangunan jalan usaha tani, rehabilitasi lahan, hingga pencetakan sawah baru.
Ke depan, hingga 2027, pembangunan akan difokuskan pada jaringan irigasi, peningkatan kualitas lahan, serta akses distribusi hasil pertanian.
Langkah ini diharapkan mampu memastikan hasil produksi tidak hanya meningkat, tetapi juga dapat tersalurkan dengan baik ke masyarakat.
Wawali Balikpapan menegaskan, upaya menuju kemandirian pangan bukanlah pekerjaan yang bisa selesai dalam waktu singkat. Ketergantungan terhadap pasokan luar daerah akan tetap ada, namun secara perlahan ditekan.
“Ini strategi jangka panjang. Kita kurangi ketergantungan secara bertahap dengan memperkuat pertanian lokal,” jelas Wawali Balikpapan, Bagus. [sr]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















