Pranala.co, BONTANG – Terik matahari tak menyurutkan semangat ratusan warga Kota Bontang yang memadati halaman UMKM Center sejak pagi. Mereka rela mengantre hingga lima jam demi mendapatkan beras murah dalam program Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Kota Bontang, Rabu (11/2/2026).
Program yang dijadwalkan dimulai pukul 08.00 Wita sempat mengalami penundaan. Truk pengangkut beras dari Perum Bulog Samarinda dilaporkan mengalami kendala teknis di tengah perjalanan menuju Bontang. Distribusi beras baru dapat dilakukan sekitar pukul 14.00 Wita.
Meski harus menunggu berjam-jam, warga memilih bertahan. Sebagian besar sudah datang sejak pagi dan enggan meninggalkan lokasi sebelum mendapatkan beras yang dijual dengan harga lebih rendah dibandingkan harga pasar.
Kepala Bidang Ketahanan Pangan DKP3 Bontang, Debora Kristiani, menjelaskan pihaknya segera berkoordinasi setelah menerima informasi adanya kendala pengiriman.
“Kendaraan pengangkut mengalami mogok dalam perjalanan dari Samarinda ke Bontang. Kami langsung mengupayakan truk pengganti untuk menjemput dan membawa beras ke lokasi,” ujar Debora.
Setibanya di lokasi, proses bongkar muat dilakukan secara cepat agar distribusi bisa segera dimulai. Antrean yang sempat menunggu sejak pagi kembali memanjang saat penjualan dibuka.
Dalam pelaksanaan perdana GPM tahun ini, DKP3 menyiapkan total lima ton beras. Rinciannya, empat ton beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dijual seharga Rp60 ribu per karung ukuran lima kilogram, serta satu ton beras premium Bulog seharga Rp75 ribu per karung dengan ukuran yang sama.
Seluruh stok tersebut habis terjual pada hari yang sama. Menurut Debora, harga jual yang lebih rendah dimungkinkan karena pemerintah daerah memberikan subsidi biaya transportasi.
“Biaya angkut sudah kami subsidi, sehingga masyarakat dapat membeli dengan harga yang lebih terjangkau,” jelasnya.
Selain beras, DKP3 juga menyediakan 500 piring telur lokal dengan harga Rp55 ribu per piring, lebih rendah dari harga pasar. Minyak goreng merek Saro, produk lokal Bontang, turut dijual dengan stok mencukupi. Komoditas lain seperti gula dan tepung juga tersedia.
Tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa program GPM masih dibutuhkan sebagai instrumen pengendalian harga dan stabilisasi pasokan pangan, terutama di tengah fluktuasi harga bahan pokok.
Program ini tidak sekadar menjadi sarana transaksi jual beli, tetapi juga bagian dari upaya pemerintah menjaga daya beli masyarakat. Kehadiran produk lokal dalam GPM turut memperkuat perputaran ekonomi daerah.
DKP3 memastikan program serupa akan kembali digelar menjelang Hari Raya Idulfitri, periode yang umumnya disertai peningkatan permintaan bahan pokok.
“Sementara untuk kegiatan di luar anggaran DKP3, pelaksanaannya bergantung pada kesiapan instansi terkait. Kami siap mendukung jika dibutuhkan,” kata Debora. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















