Pranala.co, SAMARINDA – Kalimantan Timur (Kaltim) diam-diam menyimpan “emas putih” di perut buminya. Bukan emas atau batu bara, melainkan pasir silika, bahan baku utama panel surya dan industri kaca yang kini kian diburu di era transisi energi.
Potensi pasir silika di Kaltim tersebar luas. Utamanya di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Mulai dari wilayah Marang Kayu, Muara Badak, Sambera, Anggana, Kutai Lama, hingga Sebulu dan Muara Kaman.
Kepala Bidang Mineral dan Batubara (Minerba) Dinas ESDM Kaltim, Achmad Pranata, mengungkapkan hingga Oktober 2025, lebih dari 30 izin tambang mineral bukan logam dan batuan (MBLB) telah diterbitkan, termasuk untuk komoditas pasir silika.
Pranata, yang akrab disapa Nata, menyebut potensi pasir silika di Kaltim masih perlu kajian ilmiah mendalam.
“Kami masih berdasar pada data potensi regional dan titik-titik indikatif saja,” ujarnya saat ditemui di Samarinda.
Artinya, meski cadangan pasir silika di Kaltim diyakini melimpah, pemerintah daerah belum berani menyimpulkan angka pasti tanpa studi geologi lebih detail.
Terkait kekhawatiran masyarakat soal tambang yang beroperasi di kawasan konservasi, Nata memastikan izin tak akan diterbitkan jika lokasi berada di area lindung.
“Setiap permohonan izin akan melalui proses penyaringan ketat. Jika berada di kawasan konservasi, otomatis ditolak. Proses izin lingkungan pun kami saring kembali,” tegasnya.
Pengawasan tambang juga melibatkan Dinas ESDM, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), dan Inspektur Tambang.
“ESDM mengawasi sisi administratif, inspektur menangani teknis tambang, dan DLH fokus pada aspek lingkungan,” tambahnya.
Pemerintah Kaltim kini mendorong agar pasir silika tak hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah. Arah kebijakan sudah jelas: hilirisasi industri.
“Potensi pasir silika di Kaltim dapat mendukung transisi energi melalui produksi panel surya. Kami berupaya agar ada pabrik pengolahan di daerah,” jelas Nata.
Menurutnya, Kutai Kartanegara dan Penajam Paser Utara bahkan telah menyiapkan lahan untuk pengembangan industri pengolahan pasir silika.
“Sekarang tinggal menunggu investor yang berminat,” ujarnya menutup.
Pasir silika kini bukan sekadar komoditas tambang. Ia bisa menjadi jembatan antara sumber daya alam dan masa depan energi bersih Indonesia. Dengan kebijakan yang tepat, Kaltim bisa melangkah lebih jauh — dari sekadar penghasil bahan mentah menjadi pemain penting dalam industri energi hijau nasional. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami
















