Pranala.co, BONTANG — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi pelajar di Bontang tetap berjalan selama Ramadan 2026. Namun, terdapat penyesuaian pada jenis menu yang dibagikan. Jika sebelumnya makanan disajikan dalam bentuk olahan basah, selama bulan puasa paket diganti menjadi makanan kering siap saji.
Perubahan tersebut mendapat perhatian khusus dari Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris. Ia menegaskan agar seluruh Satuan Penyedia Pelayanan Gizi (SPPG) lebih teliti, terutama dalam memeriksa masa kedaluwarsa produk makanan kemasan sebelum dibagikan kepada siswa.
“Jangan sampai makanan yang diberikan sudah melewati masa kedaluwarsa. Itu sangat berbahaya bagi kesehatan anak-anak,” ujar Agus Haris, Jumat (13/2/2026), usai melakukan inspeksi mendadak di SD 003 dan SD 010 Bontang Selatan.
Agus Haris menilai perhatian terhadap detail sekecil apa pun menjadi kunci keberhasilan program MBG. Sasaran program ini adalah pelajar, sehingga aspek keamanan pangan tidak boleh diabaikan.
Ia menyebutkan, persoalan tersebut sebelumnya telah dibahas bersama Dinas Kesehatan. Wali Kota Bontang juga meminta agar sebelum Ramadan, seluruh kepala SPPG, kepala dapur, hingga ahli gizi mendapatkan pengarahan khusus terkait standar keamanan dan kualitas makanan.
“Kalau membeli makanan jadi seperti roti atau susu, itu harus benar-benar dicek. Bahkan perlu dibuka dan diperiksa langsung. Ini untuk anak-anak, jadi tidak boleh ada kelalaian,” tegasnya.
Selain keamanan pangan, komposisi gizi dalam paket MBG juga menjadi perhatian. Agus Haris menekankan pentingnya susu dalam setiap paket yang dibagikan kepada siswa.
Menurutnya, susu memiliki peran penting dalam menunjang pertumbuhan, khususnya bagi anak usia di bawah 10 tahun. Konsumsi susu secara rutin dinilai dapat membantu mendukung perkembangan fisik anak secara optimal.
Sementara itu, Kepala SPPG Bontang Selatan 006, David Diva, menjelaskan bahwa kebijakan penggunaan menu kering selama Ramadan telah diatur dalam surat edaran tahun 2025.
Seluruh paket MBG dikemas dalam tas jinjing berwarna biru berlogo SPPG. Tas tersebut nantinya dikembalikan untuk digunakan kembali sebagai bagian dari efisiensi dan pengelolaan logistik.
“Kami memilih menu yang mudah dibawa, aman disimpan beberapa jam, dan tetap bergizi. Ini supaya anak-anak tetap mendapatkan asupan yang dibutuhkan meski sedang berpuasa,” jelas David.
Untuk mekanisme distribusi, SPPG menerapkan sistem yang fleksibel sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah. Program MBG hanya dihentikan saat libur nasional. Apabila sekolah libur di luar jadwal tersebut, paket makanan tetap disiapkan dan dapat diambil oleh siswa. (FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami


















