BALIKPAPAN, Pranala.co – Sirene kewaspadaan kesehatan berbunyi di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim). Sekira 200 warga dilaporkan terjangkit suspek campak dalam waktu singkat. Meski belum seluruhnya terkonfirmasi positif melalui pemeriksaan laboratorium, angka itu cukup membuat Dinas Kesehatan (Diskes) meningkatkan siaga satu dan mempercepat program imunisasi massal.
Kepala Diskes Balikpapan, Alwiati, memastikan langkah pencegahan dilakukan secara maksimal. Ia tak ingin kasus suspek ini berkembang menjadi wabah yang sulit dikendalikan.
“Balikpapan belum masuk kategori daerah endemis, sehingga belum memerlukan outbreak response immunization dari pemerintah pusat. Tapi kewaspadaan tetap kami tingkatkan,” ujar Alwiati di Balikpapan, Jumat (27/3/2026).
Campak—penyakit menular yang dulu hampir terlupakan—kini mengancam kembali. Alwiati menjelaskan bahwa vaksinasi tetap menjadi tameng paling efektif, meski orang yang sudah divaksin masih berpotensi tertular. Bedanya, gejala pada yang terimunisasi umumnya jauh lebih ringan.
Kelompok paling rentan saat ini adalah anak-anak yang belum menyelesaikan imunisasi dasar lengkap. Karena itu, Dinkes menggelar imunisasi kejar ke berbagai pelosok kota. Targetnya jelas: tidak satu pun anak tertinggal dari perlindungan vaksin.
“Ini penting untuk membentuk kekebalan kelompok agar penularan bisa ditekan,” jelas Alwiati.
Di balik angka kasus yang mengkhawatirkan, Dinkes menyoroti kebiasaan sederhana yang sering diabaikan masyarakat: menyentuh atau mencium bayi tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.
“Padahal virus bisa saja terbawa. Ini yang terus kami ingatkan kepada masyarakat,” tegasnya.
Kebiasaan yang dianggap wajar ini ternyata menjadi salah satu jalur penyebaran virus campak. Dinkes pun memperkuat edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai garda terdepan pencegahan.
Alwiati mengimbau warga yang mengalami gejala klasik campak—demam tinggi disertai ruam kemerahan—untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Pasien yang terpapar wajib menjalani isolasi mandiri selama kurang lebih dua minggu.
“Pasien harus membatasi kontak dengan orang lain agar tidak terjadi penularan lanjutan,” tegasnya.
Sebagai langkah pengendalian, Diskes Balikpapan telah mengeluarkan surat edaran kewaspadaan ke seluruh fasilitas kesehatan dan masyarakat. Upaya ini bertujuan menekan penyebaran campak agar tidak berkembang menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB). (SR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami

















